Panglima Armada Gabungan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Laksamana Heihachiro Togo terus meningkatkan tekanan terhadap posisi Angkatan Laut Kekaisaran Rusia di Port Arthur dan sekitarnya. Seusai merampungkan perbaikan atas dampak pertempuran terhadap sejumlah kapal perangnya, Togo bersama armadanya kembali berlayar dari Sasebo, salah satu pangkalan AL utama Jepang, untuk menyerang Port Arthur pada 14 Februari 1904.
Kali ini dalam serangan yang dilakukan di Port Arthur pada 24 Februari 1904, Jepang berupaya memblokade alur pelayaran masuk dan keluar pelabuhan dengan menenggelamkan sejumlah kapal. Seperti diungkapkan dalam buku The War Between Japan and Russia (Robert Linthicum, 1904), Jepang melayarkan lima kapal angkut sipil yang dimuati batu dan bahan peledak, yaitu Jinsen Maru (2.331 ton), Tien Tsin Maru (2.943 ton), Hokoku Maru (2.776 ton), Buyo Maru (1.609 ton), dan Bushik Maru (1.399 ton). Tiap kapal diawaki lima orang personel AL Jepang, dua bertugas mengendalikan kapal dan tiga lainnya menangani mesin. Mereka semua mengajukan diri secara sukarela untuk menjalankan misi yang mendekati bunuh diri ini, siap dengan segala risiko.
Dengan dikawal sejumlah kapal perang dan kapal cepat torpedo, kelima kapal sipil ini berlayar mendekati mulut alur pelayaran Port Arthur dengan memanfaatkan kegelapan malam. Namun kedatangan mereka diketahui petugas jaga di kapal perang Rusia Retvizan, yang meski rusak cukup berat sehingga lumpuh tak bisa berlayar, namun masih mengapung di dekat mulut alur pelayaran pelabuhan, dan meriam-meriamnya masih bisa digunakan sehingga kapal ini berfungsi menjadi semacam pos pengamatan.
Dengan segera meriam-meriam di Retvizan menyalak, apalagi ketika terlihat dua kapal Jepang berlayar ke arahnya. Tembakan Retvizan segera diikuti oleh meriam di kapal-kapal perang Rusia lain yang ada di pelabuhan serta dari meriam-meriam pertahanan pantai di daratan. Kapal-kapal perang Jepang pun segera membalas tembakan Rusia seraya terus mengawal kapal-kapal barang yang akan ditenggelamkan itu.
Pihak Rusia sendiri mengira kapal-kapal barang itu yang posisinya ada di bagian paling depan dari iring-iringan sebagai kapal perang, sehingga seluruh tembakan mereka dipusatkan ke situ. Kapal-kapal itu segera dihajar tembakan yang membuat mereka tenggelam terlalu awal, belum betul-betul mendekat ke pelabuhan sehingga sebenarnya tujuan dari misi Jepang kali ini tidak tercapai untuk mengganggu alur pelayaran di Port Arthur.
Meski begitu aksi heroik para pelaut Jepang juga layak mendapat sorotan. Di tengah hujan tembakan ke arah kapal-kapal barang yang tak bersenjata dan badannya juga tidak diperkuat dengan lapisan baja penahan peluru seperti pada kapal perang, para pelaut yang mengawakinya dengan sigap menurunkan sekoci, lalu kabur menyelamatkan diri ke kapal perang yang sudah menunggu, juga di tengah hujan tembakan. Seluruh pelaut yang mengawaki kapal-kapal barang itu berhasil selamat, padahal AL Jepang sudah bersiap-siap dengan risiko terburuk bahwa mereka semua bakal meninggal dalam tugas. Armada Jepang pun kemudian mengakhiri serangan dan menyingkir dari Port Arthur.

Dalam kondisi terdesak itu Panglima Gugus Tugas Pasifik Angkatan Laut Kekaisaran Rusia di Port Arthur, Laksamana Oskar Starck, diganti. Penggantinya adalah Laksamana Stepan Osipovich Makarov, yang bukan sekadar perwira yang andal, namun juga seorang peneliti dan inventor yang menulis sejumlah buku soal pertahanan maritim, menjadi pemrakarsa pelayaran melintasi perairan yang membeku di musim dingin, serta merancang sejumlah kapal untuk melintasi perairan beku. Makarov tiba di Port Arthur pada 8 Maret 1904.
Dengan segera dia melakukan berbagai gebrakan. Sebelumnya selama itu sejak agresivitas Jepang meningkat, armada Rusia di Port Arthur cenderung pasif, mengambil jalan aman dengan lebih lama berada di pelabuhan yang terlindung. Kalau pun keluar dari pelabuhan, hal itu lebih dilakukan untuk membalas serangan Jepang atau sekadar melakukan patroli pengintaian. Dalam istilah militernya, armada Rusia saat itu lebih berfungsi sebagai “fleet in being” atau armada yang “pokoknya ada.” Makarov memutuskan bahwa sejak saat itu armada Rusia harus berganti menjadi yang memulai inisiatif serangan.
Hanya dua hari sejak kedatangannya, pada 10 Maret 1904 pagi, Makarov yang menggunakan kapal perang Askold sebagai kapal komandonya memimpin serangan ke gugus tugas armada Jepang yang mengepung kawasan perairan Port Arthur. Askold, kapal buatan Jerman yang diluncurkan pada 1900, sebelumnya rusak dalam Pertempuran Port Arthur 9 Februari 1904, namun sudah berhasil diperbaiki. Serangan itu tidak membawa hasil. Sore harinya gantian Jepang yang menyerang. Mereka mengirim empat kapal perang mendekati pelabuhan, tujuannya memancing kapal perang Rusia untuk mengejar. Nah, betul saja, enam kapal perang Rusia segera berangkat menyongsong mereka.

Tanpa mereka tahu ternyata Jepang sudah memasang ranjau di alur pelayaran masuk-keluar pelabuhan. Salah satu kapal perang Rusia, Steregutshchi, terkena ranjau dan terseok-seok hampir tenggelam. Laksamana Makarov terjun langsung mencoba menyelamatkan para awaknya. Dengan menggunakan kapal perang Novik sebagai kapal komandonya, dengan didampingi kapal perang Bayarin, Makarov mencoba mencapai Steregutschi. Namun sejumlah kapal perang Jepang mencoba mengepung mereka, sementara dari kejauhan juga terlihat sekelompok kapal perang Jepang lainnya. Akhirnya Makarov terpaksa mundur, sementara sejumlah awak Steregutschi ditawan oleh Jepang.
Makarov kembali menunjukkan agresivitasnya pada 22 Maret 1904 dengan menyerang dua kapal Jepang, Fuji dan Yashima, yang menjadi bagian dari gugus tugas yang dikirim Togo untuk menembaki Port Arthur dan sekitarnya. Fuji mengalami kerusakan cukup serius sehingga terpaksa ngacir pulang kampung ke pangkalan AL Jepang di Sasebo untuk menjalani perbaikan. Namun Togo membalas dengan serangan baru pada 27 Maret 1904, mengulangi taktik menenggelamkan kapal barang di alur pelayaran masuk dan keluar Port Arthur. Namun upaya ini gagal karena kapal-kapal itu tenggelam terlalu jauh dari alur pelayaran.
Kemudian pada 12 April 1904 malam, Laksamana Makarov membawa sejumlah kapal perang utamanya keluar memburu gugus tugas armada Jepang. Kali ini dia menggunakan kapal perang Petropavlovsk sebagai kapal komandonya, dan didampingi kapal perang Askold, Diana, Novik, Poltava, Sevastopol, Pobeda, dan Peresvet. Sebanyak 14 kapal cepat torpedo juga ikut berlayar sebagai kapal intai, pengawal, dan pemukul gerak cepat.

Sejumlah kapal cepat torpedo yang dikirim untuk mengintai posisi armada Jepang kemudian dicegat dan diserang sejumlah kapal perang Jepang. Karena kalah kuat dari segi kemampuan senjata yang dimiliki, kapal-kapal torpedo itu putar balik kembali ke Port Arthur, salah satunya dalam kondisi terbakar akibat tembakan Jepang. Laksamana Makarov kemudian memerintahkan kapal perang Bayan yang bersiaga di pelabuhan untuk angkat sauh dan melindungi kapal-kapal torpedo yang pulang itu. Meski sendirian, Bayan yang dikomandani Kapten Kelas I [setara kolonel] Robert Nikolayevich Viren dengan berani menempatkan diri di antara kapal-kapal perang Jepang dan kapal-kapal Rusia dan melepaskan tembakan dari semua meriamnya.
Sementara itu kapal-kapal perang lain yang dipimpin Laksamana Makarov juga tiba dan membuat kapal-kapal perang Jepang mengundurkan diri. Seraya menata ulang formasi armadanya dan memerintahkan Bayan pulang, kapal Petropavlovsk yang ditumpangi Makarov mengibarkan bendera-bendera kode komunikasi yang berarti “Bravo Bayan.” Makarov dan gugus tempurnya sempat mencoba mengejar kapal-kapal Jepang, namun akhirnya putar balik pulang ke Port Arthur.
Dan, di sinilah bencana terjadi. Menurut sejumlah sumber, saat keluar dari pelabuhan Makarov sudah meninggalkan perintah agar ranjau-ranjau yang disebar oleh Jepang di kawasan perairan sekitar Port Arthur dideteksi dan dipetakan, dan kalau bisa dimusnahkan. Namun entah kenapa perintah itu tidak tereksekusi, atau mungkin belum tuntas dilaksanakan. Saksi mata yang dikutip dalam buku The War Between Russia and Japan (Robert Linthicum, 1904), yang berposisi di Golden Hill, salah satu bukit yang mengitari kawasan Port Arthur, menyebut Petropavlovsk sedang berlayar pelan menuju pelabuhan ketika tiba-tiba ada getaran, lalu guncangan. Kapal itu digambarkan seperti terangkat dari air, ada ledakan besar, yang pertama, kedua, lalu ketiga.
Sejumlah sumber menyebut ledakan ini terjadi karena ranjau yang rupanya luput dari deteksi dan pembersihan seperti yang diamanatkan Laksamana Makarov sebelum dia berangkat mengadang armada Jepang. Namun buku Thrilling Stories of the Russia-Japan’s War (J. Martin Miller, 1904) menyebut pula dugaan bahwa ledakan itu berasal dari torpedo yang diluncurkan dari kapal selam Jepang. Meski teknologi kapal selam sudah dikenal dan dikembangkan sejak pertengahan 1800-an, namun secara resmi belum ada angkatan laut yang memiliki (atau mengakui memiliki dan mengoperasikannya). Jepang diduga sudah membeli teknologi itu dari Amerika Serikat dan mengembangkannya secara rahasia.
Serpihan dan kepingan badan kapal beterbangan ke mana-mana, dan kapal buatan galangan di St.Petersburg, Rusia, berbobot 11.500 ton itu mulai miring dan karam dengan cepat, tak memberi banyak waktu untuk para awaknya menyelamatkan diri. Kapal-kapal cepat torpedo yang menjadi bagian dari gugus tempur yang dipimpin Petropavlovsk segera bertemperasan mencoba mencari dan menyelamatkan siapa pun yang terlihat.
Salah satu yang selamat adalah juru sinyal bernama Bochkoff, yang hanya menderita luka ringan. Seperti dikutip dari buku The War Between Russia and Japan dan juga Thrilling Stories of the Russia-Japan’s War (J. Martin Miller, 1904), dia menjelaskan ledakan yang dirasakannya seolah berasal langsung dari bagian bawah anjungan. Sebagai catatan, anjungan adalah bagian di mana ruang kemudi dan ruang komando kapal berada, di mana kapten kapal atau perwira tinggi yang menumpang kapal itu biasanya berada bersama para perwira utama lainnya. “Saya mencoba secepat mungkin keluar dari ruang kemudi. Kapal miring dan saya takut kapan pun kapal bisa terbalik,” kata dia.

“Saya lalu melihat ada orang berseragam perwira bersimbah darah, ternyata laksamana kami, Makarov. Dia terbaring tertelungkup, saya pegang bahunya mencoba mengangkatnya,” tutur dia. “Kapal rasanya seperti runtuh di mana-mana, kepingan beterbangan dan berjatuhan. Asap tebal mengepung dan kobaran api seperti melompat menuju anjungan tempat saya berada bersama laksamana. Saya lalu melompat dari pagar anjungan dan tersapu ombak laut, tapi saya bisa berpegangan pada sesuatu,” katanya. Kapal itu segera tenggelam dengan bunyi ledakan terakhir. Jam menunjukkan pukul 09.50 waktu setempat, 13 April 1904, Petropavlovsk tenggelam hanya dalam waktu dua menit sejak ledakan pertama terjadi. Bersamanya, tenggelam pula Laksamana Makarov dan 635 awak kapal. Beberapa saat kemudian, kapal perang Rusia, Pobeda, juga terkena ranjau, namun dengan terseok-seok masih bisa kembali ke pelabuhan.
Namun di tengah suasana peperangan dahsyat itu, nilai keksatriaan masih dijunjung tinggi. Panglima armada Jepang, Laksamana Heihachiro Togo, sehari kemudian memerintahkan semua kapal perangnya menaikkan bendera setengah tiang untuk menghormati gugurnya Makarov. Di kalangan pelaut, seorang komandan yang gugur dan tenggelam bersama kapalnya dianggap sebagai wujud pengabdian bernilai tertinggi. Tim penyelam Jepang sendiri beberapa waktu kemudian berhasil menemukan jenazah Makarov dan lima perwira dari bangkai Petropavlovsk. Pada 1913 ketika perang antara kedua negara sudah usai, pemerintah Jepang mengirimkan para perwira dan awak dari kapal perang Akitsushima untuk ikut hadir dalam upacara pemakaman resmi Laksamana Makarov di permakaman militer Port Arthur.
Apa yang selanjutnya terjadi sepeninggal Makarov? (Bersambung)

