Marina Budiman, Pebisnis Sektor Teknologi yang Jadi Perempuan Terkaya Indonesia

Marina Budiman (Foto: DCII)
Marina Budiman (Foto: DCII)

You will never get bored with the tech sector

Pernyataan ini dilontarkan Marina Budiman dan dikutip forbes.com, seakan memberikan penjelasan kenapa dia “jatuh cinta” pada sektor teknologi dan menjadi sangat sukses di bidang bisnis itu. Bahkan bisnis itu mengantarnya menjadi perempuan terkaya di Indonesia.

Forbes Real Time Billionaire dalam laporan terbarunya yang dikutip bisnis.com pada Senin (20/4/2026) menyebut Marina Budiman tercatat memiliki kekayaan bersih sebesar US$6,1 miliar atau Rp104,5 triliun. Hal ini membuatnya menjadi orang terkaya ke-9 di Indonesia dan peringkat 612 di dunia.

Marina Budiman adalah salah satu pendiri perusahaan teknologi berbasis pusat data, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) yang saat ini menjadi pemain utama dalam industri tersebut. Padahal sebenarnya latar belakang pendidikannya adalah di bidang ekonomi. Pekerjaan yang ditekuni pada awalnya pun adalah sektor perbankan.

Marina lahir pada 13 Desember 1960. Dirinya lahir di keluarga dengan ekonomi dan latar pendidikan yang maju pada masanya. Marina Budiman menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Bisnis Universitas Toronto, Kanada, dan menerima gelar sarjana ekonomi pada 1985. Marina awalnya bercita-cita sebagai bankir, sesuai dengan jurusan saat dirinya berkuliah. Sekembalinya ke Tanah Air, Marina mulai mengawali karirnya sebagai bankir dengan posisi account officer di Bank Bali.

Keterlibatannya dalam proyek pengaplikasian perangkat lunak di bank tersebut membuatnya berkenalan dengan sektor teknologi. Di pekerjaan pertamanya itulah dia juga bertemu dengan Otto Toto Sugiri. Mereka berdua kemudian mencermati peluang bisnis di bidang teknologi. Bersama Otto, Marina sempat bergabung di perusahaan PT Sigma Cipta Caraka, yang didirikan Otto dan berkarir di sana sebagai manajer proyek dari 1989 hingga 2000. Sementara pada 1994, Marina dan Otto bekerja sama merintis perusahaan PT Indointernet Tbk. atau yang dikenal dengan Indonet dengan kode saham EDGE. Perusahaan ini menjadi penyedia layanan internet pertama di Indonesia.

Sigma Cipta Caraka yang kemudian diakuisisi PT Telkom Indonesia menjadi cikal bakal terbentuknya PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) pada 2011. DCII adalah wujud dari perhatian Marina dan mitra-mitranya atas peluang dari minimnya pusat data di Indonesia yang masih tertinggal dari negara lain. Marina memanfaatkan peluang besar dari industri pusat data dengan mendirikan perusahaan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) pada 18 Juli 2011, bersama Otto Toto Sugiri dan Han Arming Hanafia

Seiring berjalannya waktu, perusahaan DCII miliknya berkembang pesat menjadi operator pusat data golongan IV pertama di kawasan Asia Tenggara. Saham DCII bahkan sempat meroket sejak penawaran (IPO) pada 6 Januari 2021, tertinggi di Bursa Efek Indonesia pada Agustus 2025 dengan harga Rp398.000 per saham, yang menjadikannya sebagai perempuan tersukses di Indonesia. Di bawah kepemimpinan Marina sebagai Presiden Komisaris PT DCII Tbk, perusahaan tersebut memiliki valuasi sebesar US$27,7 miliar atau Rp475,08 triliun. Sedangkan PT Indointernet Tbk. (EDGE) mulai mencatatkan sahamnya di pasar modal pada 8 Februari 2021.

Saat ini, Marina memegang 22,51% saham DCII atau sekitar 536,50 juta saham dan 1,64% atau 6,62 juta saham EDGE. Adapun, DCII yang dirintis Marina masih menguasai setidaknya lebih dari 50% pusat data di Indonesia dengan fasilitas 15 bangunan pusat data berkekuatan 200MW.  Perusahaan tersebut bekerja sama dengan 134 perusahaan keuangan, e-commerce, dan 44 perusahaan telekomunikasi.

Marina Budiman (kiri), dan Toto Sugiri (kanan), mengapit Menteri Koordinator Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono dan Menteri Komdigi Meutya Hafid saat peresmian JK6, data center kedelapan DCII di DCI-H1 Campus, Cibitung, Jawa Barat, 3 Juni 2025. JK6 yang berkapasitas 36 megawatts adalah data center terbesar di Indonesia (Foto: DCII)

Sebagai gambaran, kapasitas pusat data DCII pada 2021 hanya sebanyak 58 MW, kemudian naik menjadi 64MW pada 2022, lalu menjadi 83 MW pada 2023, dan meningkat menjadi 119 MW pada 2024. Dari sisi kinerja, DCII dalam rentang 5 tahun terakhir mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit secara konsisten pada sisi keuangan.

Berdasarkan laporan keuangan yang dikutip Dataindonesia, DCII membukukan pendapatan sebesar Rp2,54 triliun pada 2025, tumbuh 40,14% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan dengan raihan sebesar Rp1,81 triliun pada 2024. Pendapatan DCII itu mayoritas berasal dari colocation atau layanan penyewaan data center yang menyumbang Rp2,35 triliun, dan sisinya berasal dari pendapatan lainnya. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan DCII juga naik menjadi Rp1,16 triliun pada 2025 dari posisi RpRp755,40 miliar. Setelah dikurangi dengan pajak dan beban lainnya, DCII mengemas laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1 triliun atau tumbuh 25,72% YoY.

Baca Juga:

Mengenal Para Tokoh Perempuan Pemeran Penting Sejarah dari Kalimantan Timur

Ketika Mangkunegoro X Bicara Soal Rumah dan Kebahagiaan

Share the Post: