Tanggal 1 Juni yang diperingati sebagai hari lahir Pancasila mungkin lebih banyak memberi tempat pada Soekarno atau Bung Karno yang memberikan uraian mengenai konsep dasar negara untuk Indonesia merdeka yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Namun mungkin banyak yang lupa atau tidak tahu bahwa apa yang disampaikan Soekarno ini sebenarnya adalah respons atas pertanyaan yang disampaikan oleh dr. Radjiman Wediodiningrat, Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).
Bagi kebanyakan orang Solo dan sekitarnya, nama “Radjiman” mungkin juga lebih dikenal karena dijadikan nama jalan raya dari Pasar Klewer di sudut barat laut Alun-Alun Utara Keraton Surakarta hingga ke perbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo di wilayah Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura.
Jadi siapakah Radjiman hingga namanya dipakai sebagai nama jalan yang bentangnya cukup panjang di Kota Solo? Adakah hubungan beliau dengan Solo?
Berdasarkan penelusuran di sejumlah sumber, Radjiman tidak berdarah bangsawan. Dia lahir dari keluarga rakyat biasa di Desa Mlati, wilayah yang kini masuk Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 21 April 1879. Ayahnya seorang kopral dalam angkatan bersenjata Hindia Belanda atau KNIL, Sutodrono, sementara ibunya memiliki darah Sulawesi-Gorontalo. Radjiman ini sebenarnya masih bersaudara dengan tokoh perjuangan nasional dan perintis kemerdekaan, dr. Wahidin Soedirohoesodo karena istri dr. Wahidin masih bersaudara dengan ayah Radjiman. Karenanya saat beranjak remaja Radjiman kemudian bekerja menjadi penjaga dan pengasuh anak-anak dr. Wahidin yang merupakan pamannya.
Radjiman biasa mengantar dan menunggui anak-anak dr. Wahidin bersekolah. Seraya menunggu, Radjiman biasa duduk di bawah jendela kelas dan menguping pelajaran dari bawah jendela. Rupanya Radjiman menunjukkan kemampuan bisa mengikuti pelajaran sehingga dr. Wahidin kemudian merekomendasikannya masuk bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS). Ini sekolah yang levelnya paling elite karena di masa penjajahan itu hanya anak warga Belanda atau orang Barat serta golongan bangsawan tinggi atau kelas menengah atas yang “layak” bersekolah di situ. Sumber lain menyebut kebiasaan Radjiman menguping dan menyimak pelajaran dari luar kelas itu membuat guru di sekolah itu berinisiatif mengajaknya untuk ikut bergabung ke dalam kelas.
Radjiman lulus pada 1893. Sang paman, dr. Wahidin, masih terus mendukungnya untuk melanjutkan menuntut ilmu dan memberinya rekomendasi serta bantuan untuk melanjutkan pendidikan di School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) alias sekolah “dokter Jawa” di Batavia atau Jakarta. Radjiman merampungkan pendidikannya di perguruan tinggi yang banyak melahirkan para tokoh pejuang perintis kemerdekaan serta kemudian menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu pada 1899.
Sebagai seorang dokter muda berusia 19 tahun saat itu, Radjiman memulai karirnya sebagai seorang dokter yang bertugas di CBZ (Centraale Burgerlijke Ziekenhuis) atau Rumah Sakit Pemerintah Pusat di Jakarta. Setelah itu dia ditugaskan ke berbagai daerah seperti di Banyumas, Semarang, Madiun, Sragen, dan Jawa Timur. Sebagai seorang dokter muda yang ditugaskan di daerah, dia pun merasakan kondisi masyarakat yang dilayaninya, yang penuh kesulitan. Perjumpaan langsungnya dengan situasi rakyat kecil memberinya landasan untuk lebih memperhatikan nasib masyarakat secara luas. Ketika dia kemudian diangkat sebagai asisten dosen di STOVIA pada 1903-1904, dia banyak bertukar pikiran dengan sesama pemuda mengenai kondisi rakyat, dan meraup referensi dari berbagai buku mengenai masalah politik dan kebangsaan dari perpustakaan.
Semasa bertugas di Sragen, Jawa Tengah, Radjiman berteman akrab dengan Bupati Sragen, Soemonegoro. Pertemanan yang kemudian berlanjut menjadi persahabatan ini membuat sang bupati kemudian memberikan masukan kepada Raja Surakarta Hadiningrat, Sinuhun Paku Buwono X, agar Radjiman dijadikan dokter keraton. Memang ada syarat yang harus dipenuhi yaitu Radjiman harus mengundurkan diri sebagai dokter pemerintah Hindia Belanda untuk bisa bertugas sebagai dokter Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Hal ini pun dilakukan sehingga Radjiman pun resmi bertugas sebagai dokter keraton sejak 1906.
Memprakarsai Rumah Sakit di Solo
Selama menjadi dokter Kasunanan, Radjiman tidak berhenti memikirkan dan melayani masyarakat umum. Berkat pemikirannya, pemerintah Kasunanan kemudian mendirikan Rumah Sakit Panti Raga atau dikenal pula dengan nama Rumah Sakit Kadipolo. Bangunan rumah sakit ini masih ada di sisi Jl. dr. Radjiman Solo, namun kondisinya kurang terawat karena sudah lama tidak berfungsi sebagai rumah sakit.

Pada 1909 Radjiman berangkat ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan dokternya. Dia lulus setahun kemudian dengan gelar dokter yang setara dengan kualifikasi dokter di Eropa. Tak hanya itu, Radjiman terus menambah ilmu dengan belajar ilmu kebidanan dan penyakit kandungan di Berlin, Jerman, lalu kembali ke Belanda untuk belajar ilmu ronsen atau radiologi. Selama berada di Eropa ini Radjiman juga aktif dalam berbagai kegiatan bersama para mahasiswa Indonesia lain, khususnya di bidang seni budaya. Dia misalnya ikut terlibat dalam diskusi-diskusi budaya dan sastra serta dalam pertunjukan kesenian untuk memperkenalkan budaya Nusantara.
Dengan kepakaran ilmu kedokteran yang dikuasainya, Radjiman sebenarnya bisa memilih untuk “masuk zona nyaman” dengan menjadi pengajar kedokteran, membuka praktik dan bertugas di rumah sakit pemerintah di kota besar, atau menjadi peneliti. Apalagi Radjiman kemudian mendapat gelar “Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.)” dan nama penyerta gelar “Wediodiningrat” dari Kasunanan Surakarta, sebagai penghargaan atas sumbangsihnya bagi Kasunanan dan masyarakat. Nama ini sepertinya berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta “widya” yang artinya “ilmu” atau “berilmu tinggi.” Menurut kebiasaan, ketika seseorang menerima gelar kepangkatan dari Keraton, maka nama aslinya akan ditanggalkan dan nama yang menyertai gelar itu yang selanjutnya dipakai. Namun Radjiman ternyata tak mau menanggalkan nama aslinya sehingga nama aslinya pun tetap melekat bersama gelar dan nama penyerta gelarnya. Sebelum mendapatkan gelar “K.R.T.” ini Radjiman sudah lebih dulu mendapatkan gelar “Raden Ngabei (R.Ng.)” dengan nama pendamping gelar “Wediodipuro.”
Akan tetapi “hidup nyaman demi diri sendiri” tidak pernah ada dalam pikiran Radjiman. Di tengah kesibukannya menjalankan praktik sebagai dokter dia ikut mendirikan dan membangun Budi Utomo, organisasi perintis kesadaran nasionalisme. Dia bahkan memimpin Budi Utomo pada 1914-1915 dan terus terlibat dalam organisasi itu hingga kemudian berubah menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra) pada 1930-an. Dalam status sebagai wakil Budi Utomo, Radjiman kemudian menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat, sejenis “parlemen kompromi” bentukan pemerintah Belanda pada 1918.
Radjiman juga sangat aktif di bidang kebudayaan khususnya budaya Jawa. Aneka organisasi kebudayaan Jawa menjadi tempatnya aktif berkecimpung. Bahkan Radjiman menjadi salah satu penyambut dan pemandu saat pujangga besar India, Rabindranath Tagore, berkunjung ke Solo dan menjadi tamu pemimpin Praja Mangkunegaran, Mangkunegoro VII. Radjiman juga menjadi salah satu pembicara dalam Kongres Perkembangan Kebudayaan Jawa di Kota Solo pada 5-7 Juli 1918. Kongres ini adalah prakarsa Pangeran Prangwedono dari Mangkunegaran, sementara Sinuhun Paku Buwono X menjadi pelindungnya. Selain Radjiman, pembicara lain di antaranya dr. Satiman Wiryosanjoyo dan dr. Cipto Mangunkusumo. Kongres ini seperti diuraikan dalam buku K.R.T. dr. Radjiman Wedyodiningrat, Hasil Karya dan Pengabdiannya (Depdikbud, 1998) membahas tema cara pengembangan pendidikan orang Jawa.

Radjiman juga tak berhenti mengamalkan ilmu-ilmu kedokterannya. Ketika wabah pes merajalela di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada 1934, Radjiman bahkan memutuskan untuk tinggal sepenuhnya di wilayah itu untuk mencurahkan perhatian dalam penanganan wabah. Tak hanya itu, dia juga menggerakkan dan membina para dukun bayi di wilayah tersebut untuk ikut berperan memantau dan meningkatkan kesehatan ibu hamil dan mencegah kematian ibu dan bayi. Di sela-sela segala aktivitasnya, Radjiman juga mengoordinasikan upaya pendidikan bagi anak-anak di perdesaan.
Sebenarnya di masa itu, Radjiman sudah mulai digerogoti penyakit arthritis atau radang persendian yang cukup parah. Hal ini membuatnya mengajukan pengunduran diri dari jabatan sebagai dokter Kasunanan Surakarta. Namun pensiun dari jabatannya ternyata bukan berarti pensiun pula dari segala aktivitas kemasyarakatan dan perjuangan nasionalisme.
Memimpin Menuju Kemerdekaan
Ketika pemerintahan Hindia Belanda runtuh dengan masuknya Jepang, ketokohannya membuat Radjiman ditunjuk menjadi anggota Shu Sangi kai (Dewan Pertimbangan Daerah) Madiun. Setelah itu Radjiman diangkat pula menjadi anggota Chuo Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat). Mei 1945 ketika Jepang membentuk Dokuritsu Junbi Tyoosa-kai, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), Radjiman yang sudah berusia lanjut, 66 tahun, mendapat amanah sebagai ketuanya.
Sejarawan Taufik Abdullah dalam sumbangan tulisannya dalam buku 1.000 Tahun Nusantara menyebut sebagai Ketua BPUPK, Radjiman memimpin sidang-sidang dengan tegas, khususnya ketika sidang membahas hal-hal krusial seperti bentuk negara dan pemerintahan. Perkataan yang sering dinyatakan Radjiman untuk memotong dan menengahi segala perdebatan adalah “selanjutnya kita ‘stem’ saja …” “Stem” dalam hal ini merujuk pada istilah teknis untuk “menyetel” atau “menyesuaikan.”

Salah satu perkataan Radjiman yang menjadi penentu bagi masa depan Indonesia adalah ketika dirinya bertanya kepada sidang “Seperti apa dasar negara Indonesia yang merdeka?” Pertanyaan ini yang kemudian memicu sejumlah konsep dasar negara yang akhirnya mengerucut pada konsep yang diajukan Soekarno yaitu Pancasila.
Radjiman yang sudah sepuh itu bahkan masih ikut serta bersama Soekarno dan Mohammad Hatta terbang ke Dalat, Vietnam, pada 9 Agustus 1945 untuk memenuhi undangan menemui Marsekal Hisaichi Terauchi, Panglima Pasukan Ekspedisi Selatan Angkatan Darat Jepang. Terauchi saat itu menyampaikan bahwa pemerintah Jepang sudah siap menyerahkan kemerdekaan kepada Indonesia. Untuk persiapan kemerdekaan itu Terauchi menyerahkannya kepada Soekarno dkk. Ini sebenarnya siasat Terauchi saja untuk mengaburkan fakta bahwa Jepang sebenarnya sudah hancur-hancuran kondisinya. Bahkan Terauchi pada Mei sebelumnya mengalami stroke gara-gara stres berat karena Burma (kini Myanmar) lepas dari tangan pasukannya akibat gempuran pasukan Sekutu.

Kisah selanjutnya kita tahu semua. Kemerdekaan Indonesia akhirnya resmi terjadi dengan proklamasi pada 17 Agustus 1945. Radjiman kemudian kembali ke kediamannya di Ngawi. Namun semasa periode revolusi kemerdekaan 1945-1949 dia toh masih terus menyumbangkan pikiran. Salah satunya dia ikut memberi kata pengantar dalam buku mengenai Pancasila. Selain itu dia juga menjadi menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) atau parlemen sementara, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
Pengabdian Radjiman bagi bangsanya berakhir saat dirinya wafat pada 20 September 1952, dalam usia 73 tahun. Pada 2013 jasa Radjiman bagi Indonesia mendapat pengakuan resmi dari pemerintah yang menganugerahkan gelar pahlawan nasional baginya.
Sejumlah Fakta dr. Radjiman
Riwayat pendidikan:
- 1888-1893 siswa di Tweede Europese Lagere School (ELS) di Yogyakarta
- 22 Desember 1898 tamat dari Sekolah Dokter Jawa di Batavia
- 1903-1904 menjadi mahasiswa STOVIA (School Tot Opleiding Van lnlandsche Artsen/Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera) Batavia, sambil menangani tugas sebagai asisten dosen di STOVIA
- 5 November 1904 resmi mendapat gelar Indische Arts atau dokter pribumi
- 1910 belajar di Universitas Amsterdam, Belanda, dan pada 22 Desember 1910 mendapat gelar Europees Art atau dokter dengan klasifikasi setara dokter di Eropa
- 1911 belajar ilmu kebidanan, penyakit perempuan dan bedah serta penyakit dalam lainnya di Berlin, Jerman
- 1919-1920 belajar ilmu radiologi di Amsterdam, Belanda
- 1930 bergabung dalam delegasi internasional meninjau perkembangan ilmu medis di Amerika Serikat
- 1931 memperdalam ilmu urologi di Paris, Prancis, dan mendapatkan tiga sertifikat keahlian
Riwayat karier kedokteran:
- Januari 1899 menjadi dokter muda pemerintah Hindia Belanda dan bertugas di rumah sakit umum pusat Batavia (kini RS Pusat Rujukan Nasional dr. Cipto Mangunkusumo/RSCM)
- Mei 1899 ditugaskan ke wilayah Banyumas dengan tugas khusus memberantas penyakit cacar di Kalirejo, Purworejo;
- 1900 ditugaskan di RS umum Semarang (kini RS dr. Kariadi) di bagian bedah dan anatomi
- 1901- 23 Desember 1902 ditugaskan di Rumah Sakit Umum Madiun, Jawa Timur
- 1903-1904 kembali ke STOVIA sebagai asisten dosen dan melanjutkan studi untuk menjadi dokter penuh
- 1904-1905 ditugaskan di Sragen, Jawa Tengah sebagai dokter umum
- 1905-1906 ditugaskan di RS jiwa Lawang, Jawa Timur
- 1906 mengajukan permohonan berhenti sebagai dokter pemerintah Hindia Belanda untuk beralih menjadi dokter Kasunanan Surakarta Hadiningrat
- 1934 karena alasan kesehatan mengundurkan diri sebagai dokter Kasunanan.

