Upaya negosiasi yang dilakukan di antara Jepang dan Rusia untuk menurunkan ketegangan akibat ambisi penguasaan wilayah masing-masing negara di wilayah timur dan timur laut China, khususnya di kawasan Semenanjung Korea dan Manchuria, ternyata gagal. Bagi Jepang, Rusia terkesan menggantung negosiasi karena tak kunjung menanggapi materi negosiasi terbaru yang mereka sampaikan. Sementara di sisi Rusia, sejumlah sejarawan yakin Tsar (Kaisar) Nicholas II sesungguhnya memang lebih memilih jalan perang karena ingin membangkitkan lagi semangat nasionalisme rakyat serta menjaga gengsi Rusia sebagai negara besar di kawasan Timur Jauh di mana negara lain seperti Inggris, Prancis, dan Jerman, serta Jepang sendiri, makin memperluas wilayah dan pengaruh mereka.
Dalam kondisi ini, Jepang akhirnya memutuskan untuk menyetop sama sekali upaya perundingan dan menyiapkan perang. Pilihan untuk berperang ini sendiri sudah diambil oleh kabinet Jepang pada Desember 1903. Jepang pada Februari 1904 kemudian menarik mundur duta besarnya di Rusia dan memutuskan hubungan diplomatik. Lantas di mana Jepang akan memulai serangan?
Lokasi yang dipilih adalah kota pelabuhan Port Arthur di Semenanjung Liaodong, yang kini menjadi Lushunkou, salah satu bagian dari wilayah metropolitan Dalian, China. Selain pelabuhan dagang, Port Arthur juga menjadi pangkalan Armada Pasifik Angkatan Laut Kekaisaran Rusia. Pada 1904 itu armada Rusia di Port Arthur dipimpin oleh Laksamana Oskar Starck. Armadanya terdiri atas kapal-kapal perang Petropavlovsk, Sevastopol, Peresvet, Pobeda, Poltava, Tsesarevich, dan Retvizan, yang didukung kapal perang yang lebih kecil yaitu Bayan serta Pallada, Diana, Askold, Novik, dan Boyarin. Meski menjadi pangkalan AL, namun pertahanan darat Port Arthur kurang kuat karena anggaran pembangunannya harus “dibagi” dengan pangkalan lain di Dalny (kini Kota Dalian, China). Pertahanan dari serangan laut berupa meriam-meriam yang berbasis di daratan itu kurang banyak dan tidak semuanya bisa beroperasi dengan baik.
Panglima Armada Gabungan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Laksamana Heihachiro Togo, berencana menyerang lebih dulu pangkalan Rusia di Port Arthur untuk membungkam kekuatan laut mereka. Armada yang dikerahkannya adalah Divisi I Armada Gabungan yang terdiri atas enam kapal perang yaitu Hatsuse, Shikishima, Asahi, Fuji, dan Yashima, dan dipimpin kapal perang Mikasa yang menjadi kapal komando Togo. Kekuatan ini disertai Divisi II yang terdiri atas kapal perang Iwate, Azuma, Izumo, Yakumo, dan Tokiwa. Kapal-kapal perang utama ini didukung oleh 15 kapal perusak yang ukurannya lebih kecil dan lebih kurang 20 kapal serang torpedo, kapal perang ringan dengan proteksi terbatas dengan senjata utama berupa torpedo yang mengandalkan kecepatan dan kelincahan manuver. Di luar armada ini ada kapal penjelajah Kasagi, Chitose, Takasago, dan Yoshino sebagai cadangan.
Dengan kekuatan yang memadai ini, Togo berharap bisa dengan cepat melumpuhkan kapal-kapal perang Rusia di Port Arthur segera setelah Jepang memutuskan hubungan diplomatik dengan Rusia dan menyatakan perang. Namun sayangnya mata-mata lokal yang memberikan informasi mengenai kondisi pasukan Rusia di dalam Kota Port Arthur dan sekitarnya ternyata meleset infonya. Info mata-mata menyebut pasukan yang menjaga Port Arthur dan sistem meriam pantai di sekitarnya dalam kondisi siaga penuh, padahal sebenarnya tidak.
Info yang salah ini membuat Laksamana Togo membatalkan rencananya menyerang Port Arthur dengan kekuatan penuh karena dia khawatir kapal-kapal perang besarnya bakal jadi sasaran tembakan meriam pertahanan Rusia. Karenanya Togo memilih memecah kekuatannya menjadi gugus tugas yang lebih kecil. Tiga gugus tugas akan menyasar Port Arthur sedangan dua gugus yang lain menyerang pangkalan Rusia di Dalny.
Seperti digambarkan dalam buku War Between Russia and Japan karya Robert Linthicum (1904), serangan Jepang atas Rusia ke Port Arthur dilakukan memanfaatkan kegelapan malam pada 8 Februari 1904 malam. Sebenarnya elemen kejutannya sedikit hilang karena saat bergerak menuju sasaran gugus tugas Jepang yang terdiri atas 10 kapal perusak malah bertemu gugus tugas kapal perang Rusia yang sedang berpatroli. Untung saja saat itu kapal perang Rusia diperintahkan tidak memulai kontak senjata karena secara formal belum ada pernyataan perang di antara kedua negara sehingga tidak pecah pertempuran di situ. Mereka justru putar balik ke Port Arthur untuk melaporkan pertemuan mereka dengan armada Jepang.
Sementara itu gugus tugas Jepang justru sedikit kacau formasinya gara-gara kepanikan saat bertemu patroli Rusia yang membuat dua kapal mereka bertabrakan sehingga mereka tertinggal dari formasi. Lewat tengah malam, baru empat kapal perang Jepang yang berhasil mendekati Port Arthur. Kehadiran mereka diketahui petugas pengawas Rusia, namun petugas mengira mereka adalah formasi kapal perang Rusia yang baru pulang patroli sehingga mendiamkan saja mereka. Pada malam itu kondisi di pangkalan juga relatif “santai” karena sebagian perwira bahkan sedang menghadiri pesta di rumah komandan pangkalan. Kalau diingat-ingat, situasi saat Jepang menyerang ini mirip dengan situasi saat mereka menyerang pangkalan AS di Pearl Harbor, Hawaii, pada Desember 1941. Saat itu pangkalan AS juga dalam kondisi “santai” karena bertepatan dengan Minggu pagi sehingga personel yang bertugas juga kurang siaga.

Kehadiran kapal perang Jepang di Port Arthur baru kemudian diketahui petugas pengawas di kapal perang Rusia, Pallada, yang sedang berlabuh karena dia baru melihat kode lampu dari kapal perang itu yang terasa “asing” karena bukan kode dalam bahasa Rusia. Dia juga melihat bahwa susunan cerobong asap kapal yang mendekat itu berbeda dari model kapal perang Rusia. Namun kesadaran ini terlambat karena kapal-kapal perang Jepang sudah keburu menembakkan torpedo.
Satu torpedo mengenai secara telak Pallada di bagian tengah lambungnya, yang membuatnya meledak, terbakar, lalu karam. Namun kapal ini tidak tenggelam sepenuhnya karena berada di area pelabuhan yang dangkal. Torpedo yang lain mengenai kapal perang Retvizan yang mengenai bagian depannya dan membuatnya miring. Serangan torpedo lain gagal memberikan pukulan yang lebih dahsyat karena torpedo-torpedo yang dilepas bisa ditahan oleh jaring antiserangan torpedo yang melindungi pelabuhan. Sejumlah kapal perang Jepang yang datang terlambat gegara kekacauan formasi sebelumnya gagal menyerang secara bersama-sama seperti seharusnya. Namun toh mereka bisa melumpuhkan kapal perang terkuat di Port Arthur yaitu Tsesarevich, kapal buatan Prancis berbobot 13.000 ton. Serangan dan baku tembak akhirnya berhenti pada pukul 03.00 dini hari tanggal 9 Februari 1904. Sebuah gugus tugas kecil kapal perang Rusia yang dipimpin Laksamana Pangeran Moktompsky kemudian berlayar keluar dari area pelabuhan untuk mengintai situasi di laut lepas, lantas kembali.
Seperti dicatat dalam buku War Between Japan and Rusia (Linthicum, 1904), selain lumpuhnya tiga kapal perang utama, jatuh pula korban jiwa delapan orang dan 20 lainnya terluka. Namun serangan Jepang tidak banyak menimbulkan kerusakan lain bagi kapal-kapal lain serta fasilitas pelabuhan. Selain Tsesarevich, kapal perang Retvizan yang juga berhasil dilumpuhkan adalah kapal buatan galangan Cramps di Philadelphia, AS, dengan bobot 12.700 ton, serta Pallada, kapal buatan Jerman dengan bobot 5.360 ton.
Pagi harinya, Laksamana Togo memerintahkan salah satu komandannya, Laksamana Shigeto Dewa, untuk mengintai kondisi di Port Arthur. Dewa memanfaatkan kondisi pagi yang berkabut untuk berlayar sedekat mungkin ke pelabuhan, di mana dia bisa melihat 12 kapal perang Rusia, tiga atau empat di antaranya dalam penglihatannya dalam kondisi rusak, sedangkan kapal-kapal perang yang lebih kecil berlabuh menyebar. Karena Rusia tak kunjung bereaksi atas kehadiran kapal-kapalnya yang sebenarny sudah cukup dekat ke pelabuhan itu, Dewa menafsirkan hal ini sebagai petunjuk bahwa serangan semalam sudah melumpuhkan kekuatan Rusia. Dewa pun buru-buru kembali ke formasi induknya dan melaporkan hal ini ke Togo.

Padahal meski terlihat tidak bereaksi dan memang ada sejumlah kapal perang mereka yang rusak akibat serangan, armada Rusia sebenarnya sudah dalam kondisi siaga tempur penuh. Togo sendiri sebenarnya sudah berencana untuk memancing kapal-kapal perang Rusia untuk keluar dari kawasan Port Arthur dan berduel di laut lepas yang bebas dari ancaman meriam pertahanan pantai Rusia di sekitar pelabuhan. Namun laporan Dewa yang “optimistis” bahwa armada Rusia sudah lumpuh membuat Togo memilih mengambil risiko untuk kembali menyerang Port Arthur. Togo lantas memerintahkan Divisi I armadanya untuk menyerang dan Divisi III bersiaga sebagai cadangan.
Kedatangan formasi Jepang ini sudah diantisipasi Rusia yang sudah menyiagakan kapal-kapal perangnya di bawah komando langsung Laksamana Madya Oskar Starck, panglima Armada Pasifik Rusia, dan wakilnya, Laksamana Muda Ukhtonski. Laksamana Starck menggunakan kapal perang Petropavlovsk sebagai kapal komandonya, memimpin formasi dengan diikuti kapal perang Sevastopol, Poltava, Peresviet yang menjadi kapal komando Laksamanan Ukhtonski, dan kapal perang Pobeda, Bayan, Diana, Askold, Boyarin, dan Novik. Sementara tiga kapal perang yang lumpuh akibat serangan Jepang semalam dan dalam kondisi statis yaitu Tsesarevich, Retvizan, dan Pallada, tetap dalam kondisi siap tempur dan menyiagakan meriam-meriamnya yang masih bisa dioperasikan.

Menjelang tengah hari tanggal 9 Februari 1904 baku tembak pun pecah antara armada Jepang dan armada serta meriam pertahanan pantai Rusia. Kapal perang Jepang memanfaatkan meriam-meriam terbesar mereka untuk menembaki posisi meriam pantai Rusia, sementara meriam yang lebih kecil untuk menyasar kapal perang Rusia. Kedua pihak rada payah dalam ketepatan bidikan tembakan, namun Jepang berhasil menimbulkan kerusakan berat terhadap kapal perang Rusia yaitu Novik, Petropavlovsk, Poltava, Diana, dan Askold, meski tidak sampai tenggelam atau lumpuh sepenuhnya. Di sisi lain kesalahan Laksamana Dewa yang menilai armada Rusia sudah lumpuh padahal sebenarnya sudah siap tempur membuat Jepang harus menelan konsekuensinya. Baru sebentar baku tembak pecah kapal perang Mikasa yang jadi kapal komando Laksamana Togo terkena ledakan dari peluru Rusia yang memantul di air lalu meledak di atasnya. Dua perwira dan lima awak kapal terluka akibat ledakan yang juga merusak salah satu bagian anjungannya.
Perlawanan hebat armada Rusia membuat Togo memutuskan putar balik dari Port Arthur dan mundur kembali ke laut lepas, meski di bawah risiko hujan tembakan dari meriam-meriam pertahanan pantai Rusia. Dalam proses manuver putar balik dan keluar dari area Port Arthur ini sejumlah kapal perang Jepang terkena tembakan seperti yang dialami Shikishima, Mikasa, Fuji, dan Hatsuse, serta sejumlah kapal di bawah komando Laksamana Hikonojo Kamimura. Sementara itu Jepang berhasil menyarangkan lima tembakan telak ke empat kapal Rusia yaitu Petropavlovsk, Pobeda, Poltava, dan Sevastopol.
Akibat Pertempuran Port Arthur atau Battle of Port Arthur ini sebanyak 150 personel Rusia menjadi korban, sedangkan di pihak Jepang ada 90 orang yang jadi korban. Namun dampak pertempurannya terhadap kekuatan kedua armada berbeda. Meski sejumlah kapal perang Jepang terkena tembakan, namun mereka bisa pulang ke pangkalan mereka di negeri sendiri di Sasebo, yang memiliki fasilitas galangan kapal untuk perbaikan lengkap. Togo pun membawa seluruh armadanya pulang untuk menjalani perbaikan dan memperbarui logistik. Kondisi Rusia tak seberuntung Jepang karena fasilitas galangan kapal di Port Arthur sangat terbatas dan tak memiliki kemampuan untuk reparasi berskala besar.

Sebagai tindak lanjut atas serangan Jepang, AL Rusia lantas mengirim kapal pemasang ranjau Yenisei untuk memasang ranjau di jalur masuk pelabuhan Port Arthur. Sialnya satu ranjau lepas dan hanyut, menghantam Yenisei dan membuatnya tenggelam dengan korban 120 dari 200 awaknya. Lebih sial lagi, satu-satunya peta yang menunjukkan posisi ranjau-ranjau yang dipasang ikut tenggelam. Kapal perang Boyarin yang dikirim untuk menyelidiki musibah ini malah terkena ranjau pula dan terpaksa ditinggalkan meski masih bisa mengapung. Namun dua hari kemudian dia kembali terkena ranjau dan tenggelam.
Bentrokan lain terjadi di pelabuhan Chemulpo, sebuah pelabuhan strategis di pantai barat Semenanjung Korea. Pelabuhan ini kalau sekarang dikenal dengan nama Incheon, yang menjadi bagian dari Korea Selatan. Sebenarnya inilah “tembakan pembuka” dalam Perang Jepang-Rusia, karena berlangsung sebelum terjadinya serangan ke Port Arthur. Namun dari segi skala memang bentrok di Chemulpo ini kalah besar dari Pertempuran Port Arthur sehingga “kalah terkenal.” Apalagi Panglima Armada Gabungan Jepang, Laksamana Heihachiro Togo, tidak terjun langsung dalam pertempuran ini.
Bentrokan di Chemulpo pecah ketika sebuah gugus tugas kapal perang Jepang mengawal sejumlah kapal pengangkut pasukan yang menuju Chemulpo untuk mendaratkan pasukan di Korea bertemu dengan kapal penjelajah Rusia, Varyag, dan kapal cepat torpedo Korietz. Korietz sempat menembakkan dua torpedo ke arah kapal-kapal Jepang, namun semuanya luput. Jepang pun membalas dengan tembakan meriam, yang membuat Korietz dan Varyag buru-buru masuk ke pelabuhan.
Pagi harinya kedua kapal perang itu setelah mendapat perbaikan akibat dampak tembakan kapal perang Jepang berupaya kabur dari Chemulpo. Namun baru keluar dari area pelabuhan mereka sudah disambut tembakan kapal-kapal perang Jepang yang mengepung area itu. Sejumlah tembakan jitu langsung melumpuhkan Varyag, membuat kemudinya macet dan meriam utamanya rusak. Hanya dalam setengah jam dia tenggelam. Korietz masih berupaya melawan, namun sebuah peluru meriam Jepang tepat mengenai gudang pelurunya, membuatnya meledak dana karam. Awak kedua kapal yang terjun ke laut kemudian diselamatkan sebuah kapal perang Prancis, Pascal, yang sedang berada di pelabuhan itu, dan menjadi saksi pertempuran singkat itu. Sementara sejumlah awak kapal lain yang sampai ke darat ditangkap pasukan Jepang. Dengan dihabisinya dua kapal perang Rusia itu gugus tugas AL Jepang berhasil mendaratkan pasukan di Chemulpo tanpa gangguan. (Bersambung)

