Dalam hitungan bulan, kapal induk pertama TNI Angkatan Laut, bakal tiba di Tanah Air. Kapal induk itu asalnya dibuat untuk AL Italia oleh galangan kapal Fincantieri dan diberi nama Giuseppe Garibaldi, mulai dibuat pada 1981 dan diluncurkan pada 1983. Entah nama apa yang bakal disematkan kepadanya jika sudah resmi bergabung dengan TNI AL.
Yang jelas, kapal ini, dengan bobotnya yang mencapai 13.850 ton, bakal menjadi kapal kombatan (kapal dengan tugas utama bertempur di garis depan) terbesar yang bakal dioperasikan TNI AL. Jumlah awaknya pun bakal jadi yang terbanyak yaitu lebih kurang 500 personel, dan itu pun belum menghitung jumlah personel lain seperti penerbang dan pendukung operasi penerbangan.
Rata-rata kapal dengan bobot terbesar yang dioperasikan TNI AL saat ini adalah lebih kurang 7.000-an ton yaitu jenis kapal bantu rumah sakit, dan yang lebih besar adalah landing platform dock (LPD) yang bobotnya 11.000-an ton. Dari segi jumlah awak kapal, kapal jenis bantu rumah sakit KRI dr. Soeharso misalnya, memiliki 75 personel ditambah 65 personel medis dan mampu menampung 40 pasien rawat inap. Dalam keadaan darurat, juga dapat menampung 400 personel pasukan tempur atau 3.000 orang penumpang.
Sepanjang sejarah TNI AL, pengalaman mengoperasikan kapal perang dengan ukuran besar dalam bobot belasan ribu ton dan berjumlah awak banyak baru sekali terjadi pada era Orde Lama. Jadi istilahnya kapal itu dioperasikan oleh para “kakek” dari personel-personel TNI AL yang bakal mengawaki kapal induk eks-Giuseppe Garibaldi saat ini.
Kapal perang “raksasa” yang pernah dimiliki TNI AL itu adalah KRI Irian. Dari segi bobot, dibandingkan dengan kapal-kapal perang di era sekarang memang jauh lebih besar, walaupun itu masih merupakan kelaziman pada era saat dia dioperasikan. Bobotnya hampir sama dengan Garibaldi yaitu di kisaran 13.650 ton. Namun jumlah awaknya dua kalinya yaitu 1.250 personel. Seperti halnya kapal induk Garibaldi, KRI Irian pun sebenarnya bukan kapal brand new alias dibeli dari baru atau “tangan pertama.” Kapal ini aslinya bernama Ordzhonikidze, mengambil nama salah satu tokoh politik “ring 1” pembantu pemimpin besar Uni Soviet, Josef Stalin.
Lantas bagaimana kapal perang segede itu bisa beralih tangan ke Indonesia? Semua berawal dari makin eratnya hubungan Uni Soviet dan Indonesia pasca-Perang Dunia II. Saat itu sudah berlangsung “Perang Dingin” antara Blok Barat (AS dan negara-negara Eropa Barat) yang kapitalis-liberal dan Blok Timur (Uni Soviet dan negara-negara Eropa Timur, ditambah tadinya China sebelum kemudian “pecah kongsi”) yang komunis.
Perang Dingin ini membuat negara-negara dari kedua blok itu saling bersaing menanamkan pengaruh di negara-negara lain, tak terkecuali Indonesia. Saat itu Indonesia pada 1950-an masih berkutat dengan sisa-sisa pengaruh kolonialisme Belanda dan aksi-aksi separatis, termasuk separatisme yang diam-diam didukung AS terkait kekhawatiran bahwa Presiden Soekarno lebih condong ke blok komunis.
Seperti dikisahkan dalam situs Russia Beyond, “puncak kemesraan” antara kedua negara berlangsung pada awal tahun 1960-an, ketika Uni Soviet membantu “membangun” militer Indonesia yang kala itu sebagian besar alat utama sistem senjata alias alutsistanya masih “lungsuran” atau bekas pakai dari Belanda, hasil hibah peralatan yang dilakukan setelah pengakuan kedaulatan dari Konferensi Meja Bundar pada 1949. Berkat bantuan militer ini kekuatan TNI langsung melonjak menjadi salah satu yang terkuat di dunia.
Selain pesawat tempur dan pesawat angkut, ada satu alutsista yang tergolong istimewa yaitu kapal perang Ordzhonikidze yang lalu beralih nama jadi KRI Irian itu. Kapal ini menjadi kapal perang Soviet pertama sejak Perang Dunia II yang dialihkan kepada negara asing. Tapi kok bisa ya Soviet memberikan kapal perang yang dulu bahkan sempat bikin negara-negara Barat “parno” alias paranoid itu?
Hal ini berkat intensifnya diplomasi oleh kedua pihak didasari “sama-sama butuh.” Indonesia butuh persenjataan banyak dan cepat untuk menghadapi Belanda, sementara Uni Soviet butuh sekutu negara besar di Asia Tenggara. Bahkan kemudian pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev, bertandang ke Indonesia pada Februari 1960. Kunjungan Khruschev ini menjadi “gong” pemuncak bagi kemesraan kedua negara karena mewujudkan finalisasi bantuan persenjataan dan sejumlah bantuan teknis lainnya. Kapal perang Ordzhonikidze pun dikirim ke Indonesia April 1962, hanya selang empat bulan sebelum berakhirnya operasi Trikora untuk merebut Irian Barat.
Sayang kapal perang perkasa ini harus menutup riwayatnya dengan tragis. Setelah kudeta Gerakan 30 September yang akhirnya melengserkan Presiden Soekarno, pemerintahan baru yang antikomunis membuat segala hal yang berbau negara-negara komunis dibasmi dan ditindas. Alutsista asal Soviet dan negara-negara Blok Timur lainnya pun jadi korban politik dan dikandangkan. KRI Irian yang segede itu pun lenyap, dan ternyata dibesituakan di Taiwan.

Walaupun wujudnya sudah tak ada lagi, namun menarik juga mengulik soal kapal perang yang satu ini. Dikutip dari globalmaritimehistory.com, kapal perang Ordzhonikidze yang kemudian jadi KRI Irian itu adalah bagian dari proyek pembangunan kapal perang Uni Soviet pascaberakhirnya Perang Dunia II pada 1945. Saat itu pemimpin Soviet, Josef Stalin, ingin membangun lagi angkatan laut yang mampu mengimbangi atau bahkan melebihi angkatan laut negara-negara Barat. Dia pun memerintahkan perancangan dan pembangunan kapal-kapal perang berukuran besar yang mampu berlayar lintas samudera. Salah satunya adalah jenis penjelajah ringan (light cruisers) yang digolongkan sebagai kapal perang Kelas Sverdlov (Sverdlov Class). Istilah “kelas” di sini merujuk pada kapal perang perdana yang dijadikan dasar pembangunan kapal perang jenis serupa.
Desain kapal perang Kelas Sverdlov ini disetujui pada 1947, merujuk pada desain-desain kapal perang dari Jerman dan Italia. Kabarnya ada 24-30 kapal jenis ini yang direncanakan dibangun, dan pembangunannya dimulai pada 1948. Ordhzonikidze adalah kapal ketiga dari jenis ini yang rampung dan diresmikan pada 1952.
Kapal perang yang jika bermuatan penuh bobotnya bisa mencapai 16.000 ton ini memiliki panjang 210 meter, bahkan lebih panjang dari kapal induk Garibaldi yang panjangnya 180,2 meter. Lebarnya 22 meter, dan draft atau tinggi bagian kapal yang terbenam di bawah permukaan air 6,9 meter. Kapal ini ditenagai dua mesin turbin uap yang dipasok uap dari enam ketel. Kecepatan tertingginya 32,5 knot atau 60,2 km per jam, dan jarak jangkau pelayaran hingga 17.000 km pada kecepatan rata-rata 18 knot atau 33 km per jam.
Kekuatan utama persenjataannya adalah meriam-meriamnya, yang jauh lebih banyak dibandingkan kapal perang era sekarang. Kapal perang ini memiliki 12 meriam kaliber 152 mm (kapal perang sekarang rata-rata menggotong meriam berkaliber 76 mm-100 mm), yang disusun per tiga laras dalam satu kubah, sehingga total punya empat kubah meriam. Selain itu juga ada meriam kaliber 100 mm berjumlah 12 pucuk yang disusun dua laras dalam satu kubah sehingga ada enam kubah. Untuk menangkal serangan udara terdapat 32 pucuk meriam kaliber 37 mm, sedang untuk serangan bawah air terdapat 10 tabung peluncur torpedo berdiameter masing-masing 533 mm. Jumlah meriamnya memang seabrek dibandingkan kapal perang era sekarang, yang paling banter punya satu atau dua meriam, sementara untuk serangan jarak jauh dan pertahanan udara diserahkan pada rudal-rudal.

Kapal perang ini juga tergolong canggih pada masanya dengan kelengkapan sejumlah radar untuk pelacakan objek di udara, serta radar untuk pelacakan objek di atas permukaan. Dengan kelengkapan radar yang menjadi tambahan mata dan telinga bagi si kapal perang, maka setiap kapal Kelas Sverdlov bisa secara mandiri mempertahankan diri jika misalnya berlayar sendirian dalam misi operasi tunggal.
Namun kematian Stalin pada Maret 1953 memicu pergantian rezim dengan strategi politik dan militer yang berbeda. Pengganti Stalin, Nikita Khruschev, berpandangan bahwa kapal perang berukuran besar dengan jarak jangkau jelajah yang jauh sudah tak diperlukan lagi. Tugas penyerangan jarak jauh menurut dia mendingan diserahkan pada rudal atau pesawat pembom jarak jauh yang dalam perhitungan saat itu lebih efisien dan efektf. Kapal perang cukup jadi penjaga perairan di sekitar wilayah Uni Soviet saja. Karena itu pembangunan kapal perang Kelas Sverdlov pun terhenti setelah mencapai jumlah 14 buah, bukan lagi 24 atau 30 buah seperti rencana dari era Stalin.

