Kala Tentara Jepang Ogah Menyerah: Adu Cepat antara Pendukung dan Penentang Perdamaian (Bagian VI)

Gedung Markas Besar Pasukan Pengawal Kekaisaran yang kini menjadi gedung Museum Nasional dan Galeri Seni di Tokyo. (Foto: Wikimedia Commons)
Gedung Markas Besar Pasukan Pengawal Kekaisaran yang kini menjadi gedung Museum Nasional dan Galeri Seni di Tokyo. (Foto: Wikimedia Commons)

Dengan makin “mendidihnya” semangat para perwira muda tentara Jepang khususnya di lingkup Angkatan Darat untuk bergerak mencegah pemerintah mengakhiri peperangan dan berdamai, semua aktivitas kini seperti adu cepat. Pihak penentang perdamaian terus berupaya mencari dukungan dari para perwira senior, sementara pihak pemerintah juga berupaya secepatnya mewujudkan perdamaian.

Pada siang hari 14 Agustus 1945, kabinet kembali bersidang di kediaman resmi Perdana Menteri Baron Kantaro Suzuki. Mereka harus mengesahkan pernyataan resmi kekaisaran mengenai persetujuan terhadap tuntutan mengakhiri perang, penyerahan diri militer Jepang, dan mewujudkan perdamaian. Meskipun secara formal Kaisar adalah penguasa tertinggi, namun semua pernyataannya tidak berkekuatan hukum hingga dijadikan ketetapan resmi dari pemerintah yang disepakati dan disahkan secara bulat oleh kabinet. Sidang dibuka dengan sambutan bernada keras dari PM Suzuki, yang menyesalkan bahwa sampai dua kali dalam sepekan terakhir kabinet harus menghadap Kaisar dan meminta putusan dari Kaisar karena mereka tak mampu mencapai suara bulat untuk menerima tuntutan damai dari Sekutu. “Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi, ini penghinaan terhadap Tahta. Ini terjadi hanya karena kita kurang keras berupaya,” ujarnya. Dengan serta merta kemudian kabinet menyatakan sepakat mengesahkan pernyataan Kaisar.

Pada saat yang lebih kurang sama, di ruang bawah tanah kediaman PM, Direktur Biro Informasi Hiroshi Shimomura, menggelar jumpa pers untuk menjelaskan situasi terakhir yaitu sidang kabinet di hadapan Kaisar pada pagi hari sebelumnya. Namun berbeda dari konferensi pers rutin, suasana kali ini – seperti dicatat sekretaris Shimomura kemudian – lebih mirip seperti sebuah upacara doa kematian. Shimomura dengan berlinang air mata menjelaskan dengan detail bagaimana perbedaan pendapat yang masih terjadi di dalam kabinet soal penerimaan terhadap pernyataan terbaru dari Amerika Serikat yang menyinggung masalah kedudukan Kaisar dan pemerintah, yang nantinya bakal harus “merujuk kepada” Panglima Tertinggi Sekutu.

Shimomura lantas menuturkan bagaimana kemudian Kaisar menyatakan sikapnya dan bertitah agar semua pihak menerima perdamaian dan siap menanggung semua konsekuensinya. Tak lupa Shimomura menggambarkan bagaimana titah Kaisar itu disambut dengan isak tangis seluruh pejabat. Dan konferensi pers itu pun juga kemudian berakhir dengan isak tangis para wartawan. Tidak pernah sekali pun terbayangkan oleh mereka bahwa setelah berabad-abad, mereka akan menjadi saksi yang memberitakan bahwa untuk kali pertama Sang Bangau, panggilan hormat untuk Kaisar, akan memerintahkan tentaranya meletakkan senjata dan menyerah kepada musuh.

Pada siang hari yang sama pula, para pemimpin lembaga penyiaran resmi Jepang, NHK, dipanggil ke Kantor Biro Informasi Kabinet. Yang datang adalah pemimpin NHK Hachiro Ohashi, Direktur Biro Domestik Kenjiro Yabe, dan Direktur Teknik Daitaro Arakawa. Mereka mendapat kabar yang sama sekali tak pernah disangka: pernyataan resmi kekaisaran untuk menghentikan perang akan diterbitkan dan Sang Kaisar sendiri yang akan membacakannya di radio! Para pemimpin NHK itu terhenyak. Meski Jepang sudah berubah menjadi negara modern, namun hingga saat itu Kaisar masih dianggap sebagai manusia setengah dewa yang bahkan suaranya saja dianggap suci dan tidak untuk didengar langsung oleh masyarakat luas.

Yabe kemudian terkenang sebuah “insiden” pada 2 Desember 1928, saat dirinya masih menjabat sebagai kepala bidang penyiaran. Saat itu Yabe memantau siaran langsung parade militer untuk merayakan penobatan Kaisar Hirohito, yang baru naik takhta sebulan sebelumnya. Tiba-tiba Yabe tersentak ketika dia kemudian mendengar satu suara yang sangat dikenalnya sebagai suara Sang Kaisar sendiri! Entah bagaimana, mikrofon yang seharusnya hanya menangkap suara penyiar dan suara di lapangan parade ternyata juga menangkap suara Kaisar yang sedang membacakan amanat untuk pasukan. Reaksi para anggota stafnya di markas NHK juga tak kalah terkejutnya. Mereka sangat khawatir bakal mendapat teguran keras dan bahkan hukuman dari pemerintah.

Yabe waktu itu menenangkan timnya. “Sudah, tenang saja. Kalau ada yang memperkarakan, bilang saja bahwa saya yang bertanggung jawab penuh,” katanya. Padahal Yabe sendiri sesungguhnya deg-degan juga karena tak bisa memperkirakan apa reaksi dari pihak militer atau Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran yang biasanya sangat tegas untuk semua urusan yang berkaitan dengan Kaisar. Benar saja, pihak Angkatan Darat sama sekali tak mau menerima permintaan maaf atau penjelasan apa pun, sementara pihak Kementerian Rumah Tangga bahkan menyebut bahwa yang terjadi itu sudah menjurus ke “lese majeste” atau penghinaan terhadap penguasa kerajaan.

Namun yang menyelamatkan nasib Yabe justru dari pihak keluarga kaisar sendiri. Seorang ajudan militer Pangeran Taka, paman Permaisuri Nagako, kemudian menyatakan kepada Wakil Menteri Peperangan bahwa Putri Ayako, adik Pangeran Taka, sangat menyukai siaran upacara itu dan sama sekali tidak mempermasalahkan terdengarnya suara Kaisar. Dengan ini semua urusan jadi beres. Namun hanya sekali itu rakyat “secara tidak sengaja” mendengar suara Kaisar, dan tidak pernah terjadi lagi.

Kini NHK menghadapi dua pilihan, apakah Kaisar akan berpidato yang disiarkan secara langsung di radio, ataukah pidato Kaisar akan direkam dulu untuk kemudian disiarkan? Kabinet memutuskan bahwa lebih baik pidato Kaisar direkam saja. Kepala Biro Informasi Shimomura kemudian ditugaskan untuk mengatur hal ini. Dia langsung menghubungi pemimpin NHK, Ohashi, dan memintanya membawa tim teknis rekaman ke Kantor Kementerian Rumah Tangga pada pukul 15.00 hari itu. “Ingat, urusan ini sangat rahasia!” pesannya tegas kepada Ohashi.

Kesibukan lain terjadi di istana kekaisaran siang itu. Penasihat pribadi Kaisar, Marquis Koichi Kido, bertemu dengan kepala asisten pribadi Kaisar atau Grand Chamberlain, Hisanori Fujita, dan kepala ajudan Kaisar, Jenderal Shigeru Hasunuma. Mereka membahas soal rencana Kaisar berpidato untuk memberitahukan kepada rakyat soal penghentian perang dan penyerahan diri Jepang. Kido khususnya merasa khawatir dengan sikap Kaisar yang bahkan menawarkan diri untuk berbicara langsung di hadapan tentara soal keputusannya untuk menyerah. “Apakah layak atau mungkin Kaisar berbicara langsung seperti itu?” tanya Kido kepada Fujita.

Setelah termenung beberapa saat, Fujita menjawab bahwa soal ini terlalu rumit untuk dijawab dengan sekadar “ya” atau “tidak.” Hasunuma menyatakan hal yang sama. Dia dan Fujita sependapat bahwa risikonya terlalu besar jika harus mempertimbangkan apakah tentara, baik Angkatan Darat atau Angkatan Laut, bakal bereaksi dengan baik atas perintah menyerah itu. Bisa jadi bakal pecah pemberontakan besar atau perang saudara terkait penentangan terhadap perintah menyerah itu. Akhirnya mereka bertiga sepakat untuk menyerahkan tanggung jawab kepada pemimpin masing-masing angkatan. “Ayo kirim utusan ke [Menteri Peperangan] Anami dan [Menteri Angkatan Laut] Yonai dan tanyakan apa rencana mereka terkait penyerahan diri ini sebelum terlambat,” ujar Hasunuma. Jawaban dari Yonai dan Anami cukup melegakan. “Saya menjamin perilaku baik dari seluruh personel AL,” katanya kepada sang utusan yang menjumpainya di sela-sela sidang kabinet di kediaman PM. “Saya akan berbicara langsung kepada personel AD,” jawab Anami pula.

Menggalang Kekuatan untuk Berontak

Di lain pihak, golongan penentang perdamaian dengan pemrakarsanya yang paling fanatik, Mayor Kenji Hatanaka, juga terus aktif dengan segala upayanya menggalang kekuatan untuk memberontak. Siang itu dia sudah mengirim telegram panjang yang ditujukan ke Menteri Angkatan Laut, Kepala Staf Umum AL, dan sejumlah komandan AL. Isinya seruan agar seluruh personel AL melanjutkan perjuangan di medan perang dan menumpas “golongan lemah” di tubuh AL. “Sudah sewajarnya para prajurit AD dan AL Kekaisaran yang dididik untuk tidak kenal kata menyerah bertindak melawan para pejabat pemerintah yang ingin menerima tanpa syarat tuntutan penyerahan diri,” sebut salah satu bagian telegramnya.

Hatanaka kemudian rapat dengan Letkol Jiro Shiizaki dari Seksi Dalam Negeri Biro Urusan Militer Kementerian Peperangan, dan dua perwira dari Divisi Pengawal Kekaisaran, Mayor Sadayoshi Ishihara, dan Mayor Hidemasa Koga. Sebagai catatan, Koga adalah menantu Jenderal Hideki Tojo, mantan Menteri Peperangan yang kemudian menjadi Perdana Menteri dan dianggap sebagai tokoh utama pengobar Perang Asia Timur Raya. Keempatnya sepakat dengan pandangan bahwa tidak mungkin Kaisar bertindak sendiri memutuskan perintah untuk menyerah. Ini pasti gara-gara provokasi dan pengaruh dari orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu sudah sepantasnya pasukan Pengawal Kekaisaran bertindak melindungi Kaisar dari orang-orang “berpengaruh buruk” itu, yang sejatinya mengkhianati kedaulatan dan muruah Jepang. Mereka pun makin mematangkan rencana untuk bergerak.

Di sisi lain, para petinggi AD juga tak kalah sigap bergerak untuk mengamankan titah Kaisar. Wakil Menteri Peperangan Letjen Tadaichi Wakamatsu telah memerintahkan pembuatan arahan khusus untuk personel AD terkait titah Kaisar untuk menyerah. Arahan ini bertujuan agar generasi di masa depan bisa memahami alasan kenapa AD mengambil sikap untuk bersedia menyerah dan bukannya bertempur hingga hancur. Yang bertugas menyusun arahan ini adalah Kolonel Okitsugu Arao, sosok yang awalnya termasuk golongan penentang perdamaian. Namun dia ingat salah satu pernyataan favorit Jenderal Anami, “Menaati perintah adalah wujud kebijaksanaan.” Anami, dalam pikiran Arao, adalah sosok perwira profesional panutan, yang akan berdiri paling depan memimpin pasukan untuk mempertahankan Jepang. Namun ketika Pemimpin Tertinggi yaitu Kaisar sudah bertitah untuk meletakkan senjata dan mengakhiri perang demi menyelamatkan Jepang dari kehancuran total, maka seorang tentara yang baik harus menaati perintah itu sepahit apa pun rasanya dan konsekuensinya. Perintah Kaisar adalah pilihan untuk membangun kembali Jepang dari reruntuhan perang.

Marsekal Hajime Sugiyama, Panglima Angkatan Darat I Jepang, yang ikut menandatangani perintah untuk taat kepada titah Kaisar dari Kementerian Peperangan. (Foto: alchetron.com)

Arahan itu berbunyi: “Balatentara Kekaisaran akan bertindak sepenuhnya berdasarkan keputusan Yang Mulia Kaisar.” Perintah singkat itu kemudian diteken oleh Menteri Peperangan Jenderal Anami, Kepala Staf Umum AD Jenderal Umezu, Inspektur Jenderal Pendidikan Militer Jenderal Kenji Doihara, Panglima Pasukan Angkatan Darat I Marsekal Hajime Sugiyama, Panglima Pasukan Angkatan Darat II Marsekal Shunroku Hata, dan menyusul kemudian Panglima Udara AD Jenderal Masakazu Kawabe. Dengan ditekennya perintah ini maka semua personel yang menentang upaya damai tak hanya akan dianggap sebagai pembangkang, namun juga sebagai pengkhianat.

Jenderal Kenji Doihara, Inspektur Jenderal Pendidikan Militer AD Jepang. (Foto. Wikimedia Commons)

Siang itu juga Anami mengumpulkan seluruh pimpinan di Kementerian Peperangan dan berpidato. “Saat Yang Mulia Kaisar Jumat lalu memutuskan untuk menerima deklarasi musuh [Deklarasi Potsdam yang menuntut Jepang menghentikan perang dan tentaranya meletakkan senjata] dengan syarat sistem kenegaraan dipertahankan, tak ada yang bisa memperkirakan masa depan seperti apa yang akan dihadapi, atau apakah Jepang akan menyerah atau terus berperang. Keputusan kita bergantung kepada keputusan musuh. Saya perintahkan Anda saat itu untuk menunggu perkembangan dan bersiap untuk semua kemungkinan,” katanya, matanya melihat ke satu demi satu wajah para perwira.

“Akan tetapi situasi saat ini sudah sangat jelas dan pasti. Tiga jam yang lalu Yang Mulia Kaisar memerintahkan agar Jepang menerima seluruh syarat dari musuh. Angkatan Darat akan menaati perintah Kaisar. Yang Mulia Kaisar sudah menawarkan diri untuk datang ke sini dan berbicara langsung kepada Anda semua. Saya menjawab bahwa itu tidak perlu,” lanjut Anami. “Saya katakan, Angkatan Darat sebagaimana seluruh penjuru negeri akan menaati titah Kaisar. Hanya inilah harapan bagi penyelamatan dan pemulihan Jepang. Yang Mulia Kaisar yakin bahwa muruah dan warisan kedaulatan kita akan terjaga, dan beliau telah menegaskan keyakinannya kepada para perwira paling senior. Karena itu, tiga pimpinan utama Angkatan Darat dan para perwira paling senior beberapa menit lalu di gedung ini sudah bersumpah untuk mengikuti apa yang sudah dititahkan Yang Mulia Kaisar. Tak seorang pun prajurit di tubuh Angkatan Darat Kekaisaran yang akan membangkang terhadap titah Kaisar. Tak seorang prajurit Angkatan Darat yang akan menganggap dirinya lebih tahu dari Kaisar dan pemerintah soal apa yang terbaik untuk negeri ini!” tegas Anami.

“Saya sependapat kalau ada anggapan bahwa kondisi saat ini sangat di luar kebiasaan. Tapi hal ini tidak mengubah fakta bahwa salah satu kebijaksanaan utama seorang prajurit adalah ketaatan. Masa depan Jepang sudah tak lagi diragukan, tapi juga bukan masa depan yang mudah. Anda semua…. Kita semua … Anda semua para perwira harus menyadari bahwa kematian takkan menghindarkan Anda dari kewajiban. Kewajiban Anda adalah terus hidup dan melakukan yang terbaik untuk membantu negara Anda melalui jalan pemulihan – bahkan meski dalam kondisi yang paling sulit!” ujar Anami menutup pidatonya.

Letjen Masao Yoshizumi, Kepala Biro Urusan Militer, kemudian memberikan ringkasan keputusan Kaisar. Setelah itu Wakil Menteri Peperangan Letjen Wakamatsu berdiri dan kepada Anami menyatakan bahwa semua perwira yang hadir akan menaati perintahnya.

Jenderal Shizuichi Tanaka, Panglima Komando Wilayah Timur AD Jepang. (Foto: tokyotrial.cn)

Letkol Masataka Ida, salah satu pendukung penentang perdamaian, tahu ada pertemuan itu, namun memilih menyendiri di dalam ruang perlindungan bawah tanah kementerian, sibuk sendiri dengan pergolakan pikirannya. Mayor Hatanaka, yang paling fanatik menyerukan dan merancang gerakan kudeta guna menentang perintah damai, juga tak ada di sana. Saat itu dia mendatangi kantor Jenderal Shizuichi Tanaka, Panglima Komando Wilayah Timur Angkatan Darat. Tanpa basa-basi, Hatanaka berteriak memanggil Sang Jenderal dari depan pintu ruang kerjanya. Hal ini membuat ajudan Tanaka bersiaga, tangannya sudah menggenggam pedang, siap menghunusnya. Hatanaka lalu menerobos masuk dengan nafas terengah-engah, matanya merah. Belum sampai dia buka mulut Jenderal Tanaka sudah membentaknya. “Mau apa kau di sini? Aku tahu isi pikiranmu! Aku tak mau mendengarnya! Pergi sekarang juga! Keluar!!!” raung Sang Jenderal.

Hatanaka hanya berdiri tegak, mulutnya sudah komat-kamit, tapi suaranya tak keluar. Dia memandang Sang Jenderal, di bawah sorotan tajam mata sang ajudan yang masih siap menghunus pedang. Akhirnya Hatanaka memberi hormat, lalu balik kanan meninggalkan ruangan.

Hatanaka akhirnya kembali ke Kementerian Peperangan. Dia memasuki kantor Letkol Ida yang kaget melihat kondisi Hatanaka. Sesiang itu Hatanaka sibuk pergi ke sana kemari dengan mengayuh sepeda, mencoba menggalang dukungan untuk gerakan kudeta yang dirancangnya. Hatanaka yang terlihat lusuh, seragamnya basah kuyup oleh keringat, mengajak Ida ke atap gedung. Meski Ida satu tingkat lebih senior dari Hatanaka sejak di Akademi Militer, hubungan mereka akrab.

Hatanaka awalnya bertanya, apa yang harus mereka lakukan selanjutnya dengan perintah penyerahan diri itu. Ida pun menjawab, satu-satunya hal yang layak dilakukan oleh seorang tentara adalah melakukan seppuku, bunuh diri dengan menyobek perut sendiri menggunakan pedang pendek sebagai simbol pemeliharaan martabat. “Itulah satu-satunya jalan. Kita pasrahkan semuanya kepada Langit,” kata Ida. Hatanaka membantah. “Kalau semua akan kita serahkan kepada Langit, maka aku memilih jalan untuk terus melawan, meskipun aku nanti dicap sebagai pengkhianat. Lebih baik aku lawan musuh mati-matian ketimbang mempercayakan Kaisarku dan Tanah Airku kepada musuh,” tukasnya.

“Tapi Kaisar sendiri sudah memerintahkan untuk berdamai, Jenderal Anami sudah memerintahkan kita semua untuk taat,” ujar Ida. “Langit mungkin akan merestui apa pun yang terjadi, dan manusia tidak bisa memperkirakannya. Namun kalau kita bertindak karena kesetiaan yang murni, kenapa mesti merasa bersalah? Tak ada yang bisa meramalkan masa depan, karena itu semua orang harus bertindak sesuai apa yang diyakininya benar,” tegas Hatanaka.

Ida mengalihkan topik pembicaraan. “Baiklah, jadi sejauh mana rencanamu?” tanya dia. “Jadi Kolonel, saya mau menduduki Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran, saya ingin mengisolasi istana dari semua kontak keluar. Saya sudah menjalin hubungan dengan Divisi Pengawal Kekaisaran, sejumlah persiapan sudah dilakukan. Kalau sedikit saja perwira bergerak, seluruh AD akan ikut serta. Saya tidak ragu, kita akan berhasil. Langit bersama kita, bergabunglah dengan kami, Kolonel, ini lebih baik dari pada bunuh diri,” ujar Hatanaka. Ida menggeleng. “Kalau AD memberontak dan gagal, bisa terjadi perang saudara. Apa yang bakal terjadi kepada Jepang? Kamu sendiri bilang, gerakan ini belum tentu berhasil. Makanya aku yakin AD harus taat pada putusan Kaisar,” kata Ida. “Aku kagum dengan semangatmu, mungkin aku bahkan sedikit iri pada semangatmu. Jadi aku hanya bisa bilang lanjutkan rencanamu. Tapi aku tak bisa bergabung. Aku memilih mengakhiri hidupku besok. Sampai jumpa, Hatanaka,” ucap Ida sambil menepuk bahu juniornya itu. Hatanaka membungkukkan badan, lalu pergi.

Isu Pemberontakan Merebak

Sementara itu, desas-desus dan kecurigaan bahwa ada pasukan militer yang akan memberontak menolak perdamaian sudah didengar oleh sejumlah pejabat. Salah satunya mantan Perdana Menteri Pangeran Fumimaro Konoye, yang menyuarakan kekhawatirannya kepada penasihat pribadi Kaisar, Marquis Kido. “Saya agak khawatir dengan Divisi Pengawal Kekaisaran, yah, saya harap ini hanya desas-desus kosong. Tapi rasanya kita perlu waspada dengan pasukan pengawal,” kata dia. “Saya tidak tahu soal itu. Tapi saya masih yakin kalau pasukan pengawal tetap setia,” sahut Kido.

Pangeran Fumimaru Konoye, mantan PM Jepang. (Foto: repro Japan’s Longest Day)

Kido tidak tahu bahwa siang itu batalion pengawal yang berjaga di istana mendapat tambahan satu batalion lagi yang datang. Pengawal Kekaisaran yang merupakan pasukan pengawal pribadi – serupa Paspampres di Indonesia saat ini – memiliki tiga divisi. Namun Divisi Kedua diperbantukan ke Komando Wilayah Timur Angkatan Darat dan Divisi Ketiga ditugaskan di luar negeri. Tinggal Divisi Pertama yang bertanggung jawab atas pengawalan terhadap Kaisar dan istana kekaisaran. Divisi ini memiliki dua resimen, yang masing-masing memiliki tiga batalion. Hari itu, 14 Agutus 1945, Resimen Kedua yang bertugas. Biasanya, jika satu batalion bertugas, satu batalion lainnya akan bersiaga di markas, dan yang satu lagi akan berlatih atau istirahat. Jadi memang di luar kewajaran jika hari itu ada dua batalion sekaligus yang bertugas di istana, padahal juga tidak ada tanda bahaya serangan udara yang butuh antisipasi khusus. Yang juga di luar kewajaran, kedatangan pasukan batalion kedua ini dipimpin langsung Komandan Resimen, Kolonel Toyojiro Haga.

Jenderal Shigeru Hasunuma, kepala ajudan Kaisar Hirohito. (Foto: repro Japan’s Longest Day)

Hari itu saat Haga hendak berangkat ke istana bersama pasukannya, dia meminta ajudannya, Kapten Otokichi Soga, untuk tetap tinggal di markas divisi. Soga heran dengan kondisi yang tidak biasa ini. Apalagi karena dia mendengar kabar bahwa pemerintah sudah menerima tuntutan dalam Deklarasi Potsdam untuk mengakhiri perang dan menyerah. Dia hanya bisa menyimpan pertanyaan di hatinya, bercampur rasa khawatir.

Keheranan juga muncul di benak salah satu Chamberlain atau asisten pribadi Kaisar, Yasuhide Toda ketika melihat banyaknya tentara yang bergerombol di jalan yang menghubungkan gedung Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran dengan Gobunko, gedung perpustakaan istana yang saat itu menjadi tempat tinggal sementara Kaisar. Istana Kaisar yang dibangun pada era Kaisar Meiji pada pertengahan abad ke-19 sudah ludes kena serangan bom Amerika pada Mei 1945, sehingga Kaisar dan permaisuri terpaksa “mengungsi” ke Gobunko. “Tidak butuh tentara sebanyak ini biasanya,” pikir Toda sambil melirik ke tentara-tentara berseragam dan bersenjata lengkap itu.

Pada siang itu pula di Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran, kepala ajudan Kaisar, Jenderal Hasunuma, bertemu dengan Panglima Divisi I Pengawal Kekaisaran, Letjen Takeshi Mori. “Bagaimana kondisi satuan pengawal?” tanya Hasunuma kepada Mori. “Apakah Anda betul-betul bisa mempercayai mereka?” imbuh dia. “Mereka memang agak gelisah,” jawab Mori. “Apalagi dengan segala desas-desus soal penyerahan diri sejak Jumat lalu. Tidak mengherankan. Tapi saya tidak mengkhawatirkan mereka,” kata dia pula. “Tapi kabarnya ada perwira-perwira muda di Kementerian Peperangan yang mungkin akan bikin rusuh,” kata Hasunuma. “Ah, isu-isu saja itu,” jawab Mori. “Ya sudah, di masa seperti sekarang, kita harus waspada, tapi jangan berlebihan juga,” kata Hasunuma seraya melepas Mori pulang.

Baru saja sampai di markasnya, Mori menerima telepon dari Kepala Staf Komando Wilayah Timur Angkatan Darat yang memanggilnya untuk datang ke markas. Mori yang datang menghadap bersama komandan Komando Pertahanan Tokyo dan komandan Divisi Antiserangan Udara I mendapat penjelasan dari Panglima Komando Wilayah Timur Jenderal Tanaka soal keputusan resmi dari Kaisar untuk menghentikan perang. “Segenap balatentara kekaisaran harus bertindak sesuai titah Kaisar,” tegasnya. “Akan tetapi, kita juga tidak bisa menduga apakah akan muncul kekacauan yang menyertai proses penghentian perang dan gencatan senjata ini. Karena itu kita semua harus memastikan ketertiban umum dijaga dan hukum ditegakkan,” pesannya. Tanaka lantas memandang Mori. “Di saat seperti sekarang banyak pihak yang akan berupaya melindungi Kaisar. Bahkan mungkin bakal ada kekerasan dalam upaya menjaga kehormatan Kaisar. Karena itu tanggung jawab Anda akan sangat berat,” ujarnya. (Bersambung)

Baca Juga:

Kala Tentara Jepang Ogah Menyerah: Suara Pembangkangan Makin Kencang (Bagian V)

Kala Tentara Jepang Ogah Menyerah: Sikap Penolakan Merebak (Bagian IV)

Dukung Lalu lalang masa

Setiap artikel di situs ini membutuhkan waktu untuk riset, membaca sumber,
dan menyusun tulisan. Jika tulisan ini bermanfaat, Anda dapat membantu
agar kami terus menghadirkan kisah-kisah sejarah Indonesia dan dunia.

Saweria Lalu Lalang Masa

Terima kasih atas dukungannya.

Share the Post: