Kala Tentara Jepang Ogah Menyerah: Tegangnya Persiapan Rekaman Pidato Kaisar (Bagian VII)

Salah satu bagian naskah pernyataan kekaisaran yang menerima tuntutan penghentian perang dan penyerahan diri dari Sekutu. Di bagian kiri terlihat stempel resmi kekaisaran. (Foto: www.digital.archives.go.jp/ commons.wikimedia.org
Salah satu bagian naskah pernyataan kekaisaran yang menerima tuntutan penghentian perang dan penyerahan diri dari Sekutu. Di bagian kiri terlihat stempel resmi kekaisaran. (Foto: www.digital.archives.go.jp/ commons.wikimedia.org

Pada saat para perwira muda yang bermaksud memberontak guna mencegah diambilnya langkah damai dan penyerahan diri oleh pemerintah kepada Sekutu terus melakukan berbagai persiapan, suasana tegang juga dirasakan para pejabat yang mempersiapkan pelaksanaan perekaman pidato Kaisar Hirohito yang akan menyampaikan pernyataan resmi kepada rakyat mengenai pilihan sikap untuk mengakhiri perang dan menyerah.

Ada dua persiapan besar yang dilakukan, yaitu persiapan teknis yang dilakukan oleh para personel badan penyiaran publik Jepang, NHK, dan persiapan naskah resmi pidato Kaisar. Persiapan naskah pidato ini tak kalah rumitnya karena sebagai sebuah “sabda” maka bahasa yang digunakan adalah bahasa yang sangat formal, bernuansa sastrawi yang tinggi, bukan bahasa pergaulan harian atau bahkan bukan bahasa resmi perkantoran atau ilmiah. Ada lagi beban tambahan yang diemban, yaitu karena naskah inilah yang untuk kali pertama akan disampaikan secara langsung oleh Kaisar kepada rakyat, meski melalui perantaraan rekaman di radio yang akan disiarkan kemudian. Belum pernah terbayangkan saat itu bahwa seorang Kaisar Jepang akan “berbicara” langsung, menyampaikan suaranya secara langsung kepada masyarakat umum. Selama itu “sabda” atau “titah” Kaisar adalah berupa naskah pernyataan resmi yang kemudian diberitakan melalui media massa.

Yang bertanggung jawab menyusun naskah pidato resmi Kaisar adalah Sekretaris Utama Kabinet, Hisatsune Sakomizu, dan asistennya, Michio Kihara, mantan wartawan koran Nippon Times yang direkrut untuk membantu sekretariat kabinet. Secara garis besar, kabinet sudah memberikan pengesahan terhadap sikap resmi Kaisar, karena meski berstatus sebagai kepala negara dan pemimpin tertinggi, pernyataan Kaisar belum berkekuatan hukum tetap kecuali sudah ditetapkan dan disahkan secara bulat oleh kabinet selaku pemegang kekuasaan eksekutif. Namun naskah pernyataan resmi dari Kaisar yang akan dibacakan di radio masih harus disahkan juga oleh kabinet secara bulat untuk menjadi ketetapan pemerintah.

Kini tugas berat itu harus dirampungkan Sakomizu dan Kihara dalam waktu singkat, karena pidato Kaisar harus direkam hari itu juga, dan hanya bisa dilakukan jika naskahnya sudah disahkan kabinet. Keduanya menyusun naskah pidato berdasarkan catatan pernyataan yang disampaikan Kaisar pada dua kali sidang  yang dihadirinya, yaitu pada malam pertengahan tanggal 9-10 Agustus 1945, dan pada 14 Agustus pagi menjelang siang. Untuk menyusun naskah itu Sakomizu dan Kihara menggunakan sejumlah naskah rujukan seperti panduan kebahasaan untuk penyusunan dokumen resmi pemerintahan. Mereka juga mendapat bantuan dari Seitoku Yasuoka dan Mizuho Kawada, profesor sastra yang biasa menangani naskah-naskah literatur klasik China, yang selama itu menjadi rujukan kesusasteraan Jepang.

Gedung kantor pusat lembaga penyiaran publik Jepang, NHK, di pusat Kota Tokyo, difoto pada 1948. Gedung ini dibangun pada akhir 1930-an. (Foto: oldtokyo.com)

Dalam waktu hanya beberapa jam setelah Kaisar menyampaikan pernyataan kesediaannya untuk memerintahkan diakhirinya perang dan dilakukannya penyerahan diri Jepang, rancangan naskah resmi pernyataannya jadi, dan salinannya segera dibagikan Sakomizu kepada seluruh anggota kabinet yang berkumpul di meja bundar ruang rapat di kediaman resmi Perdana Menteri Baron Kantaro Suzuki. Dengan segera seluruh anggota kabinet, setelah satu demi satu menerima naskah dengan membungkuk hormat terlebih dahulu karena itu adalah rancangan naskah “titah Kaisar,” mempelajarinya dengan seksama.

Akan tetapi Menteri Peperangan Jenderal Korechika Anami yang merupakan pemimpin tertinggi Angkatan Darat Kekaisaran, dan Laksamana Mitsumasa Yonai, Menteri Angkatan Laut, meminta waktu agar naskah itu dipelajari terlebih dahulu oleh pejabat berkompeten di kementerian masing-masing sebelum mereka berdua memberikan persetujuan. Para anggota kabinet yang sadar bahwa naskah itu akan membawa dampak terbesar bagi kedua angkatan, karena balatentara mereka bakal dilucuti dan dibubarkan, segera memberi persetujuan. Salinan naskah rancangan pernyataan Kaisar pun lantas dikirimkan ke kedua kementerian militer itu.

Di tengah berjalannya proses ini, sebuah pesan dalam bahasa Inggris disiarkan oleh Kantor Berita Domei. Pesan yang ditangkap oleh operator radio Amerika Serikat itu berbunyi “FLASH FLASH [kode untuk informasi terbaru] TOKYO 14 AGUSTUS – ADA INFORMASI BAHWA SEBUAH PESAN KEKAISARAN YANG MENERIMA DEKLARASI POTSDAM AKAN SEGERA DISIARKAN.” Ini menjadi indikasi pertama bagi dunia luar bahwa perang dengan Jepang akan segera berakhir.

Di tempat lain, para pejabat NHK juga bersiap merekam pidato Kaisar. Di gedung NHK yang tak jauh dari kediaman resmi PM Jepang, Direktur Teknik NHK, Daitaro Arakawa, berbicara secara rahasia dengan salah satu asistennya, Iwao Kumagawa, soal rencana perekaman pidato Kaisar. Dia lalu menyiapkan tim teknisi yang terdiri atas empat orang, yaitu Kazuo Tamamushi, Seigo Murakami, Shunichi Nagatomo, dan Shizuto Haruna. Nagatomo merasa merinding ketika tahu bahwa perangkat rekaman yang harus disiapkannya adalah untuk merekam suara Kaisar Hirohito. Setelah itu keempat teknisi dan peralatan mereka, bersama tiga pimpinan utama NHK, Hachiro Ohashi, Kenjiro Yabe, dan Daitaro Arakawa, berangkat ke istana kekaisaran menaiki dua mobil yang dikirimkan Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran. Sepanjang perjalanan semuanya diam. Biasanya, orang yang akan memasuki kompleks istana kekaisaran akan diperiksa dengan ketat dan harus mengenakan pakaian formal yaitu jas panjang serta celana panjang bermotif garis-garis halus. Namun khusus untuk tim NHK segala syarat protokoler itu dilonggarkan. Bahkan para personel NHK termasuk pejabat-pejabatnya hanya mengenakan kokuminfuku, sejenis pakaian seragam untuk warga sipil yang dikenakan selama masa perang.

Gedung Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran di dalam kompleks istana kekaisaran di Tokyo, Jepang. (Foto: repro “Japan’s Longest Day”)

Di gedung Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran, mereka disambut dua pimpinan bagian dari Badan Informasi. Mereka lantas diantar ke lantai dua, ke ruangan tempat perekaman akan dilakukan. Peralatan dipasang di Ruang Urusan Politik Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran. Peralatan yang mereka bawa adalah dua set alat perekam piringan hitam Denon DP-17-K dan amplifier, dan dua perangkat pemutar piringan hitam dan pengeras suara. Sementara ruang yang akan dipakai untuk Kaisar berpidato adalah Ruang Audiensi yang bersebelahan, di mana di situ diletakkan mikrofon Matsuda Tipe A. Penggunaan dua set peralatan yang sama ini adalah sebagai antisipasi bilamana salah satu perangkat mengalami gangguan. Matsuda Tipe A adalah mikrofon berkualitas terbaik yang ada di Jepang saat itu.

Dengan segera semua peralatan dipasang dan diujicoba karena mereka belum tahu kapan rekaman akan dilakukan sehingga lebih baik semua siap secepat mungkin. Salah satu pejabat kementerian kemudian bertanya apakah mungkin Kaisar mendengarkan dulu rekaman pidatonya sebelum nantinya disiarkan. Hal itu bisa dilakukan, tapi satu-satunya alat pemutar rekaman yang ada di Tokyo harus diambil dulu dari studio rahasia NHK yang ada di ruang bawah tanah di bawah gedung Perusahaan Asuransi Daiichi. Studio rahasia itu sendiri bertujuan untuk memastikan bahwa semua siaran NHK bisa terus dilakukan seandainya terjadi kemungkinan terburuk seperti rusak atau hancurnya gedung NHK akibat serangan musuh.

Masih Diwarnai Kebuntuan

Semua siap, namun ternyata rekaman tak kunjung bisa dilakukan. Meski sedari sore tim NHK sudah siap, namun nyatanya mereka harus terus menunggu hingga malam semakin larut. Dan gara-garanya lagi-lagi ada di kabinet yang seharusnya mengesahkan naskah pidato yang akan dibacakan oleh Kaisar. Batu ganjalannya adalah Menteri Peperangan Jenderal Anami, yang merasa keberatan dengan sejumlah kata atau kalimat di dalam pernyataan itu. Dia ingin agar pernyataan itu lebih bernuansa bahwa Jepang “mengalah” dan bukannya “kalah perang.”

Yang tak sabar menunggu bukan hanya tim NHK, dan sebagian besar anggota kabinet. Bahkan Kaisar Hirohito sendiri juga menunggu karena pernyataan resmi yang akan dibacakannya itu setelah naskahnya selesai disahkan, maka harus disalin lagi dalam bentuk naskah resmi, yang kemudian akan distempel dengan cap resmi Kaisar. Jika prosesnya rampung, baru perekaman pidato bisa dilakukan. Meski tidak secara terbuka mengungkapkan ketidaksabarannya, Kaisar berulang kali bertanya ke salah satu asisten pribadi atau chamberlain yang mendampinginya saat itu, Chamberlain Sukemasa Irie, apakah naskah pernyataan sudah diantarkan. Irie tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menjawab bahwa naskah belum tiba di istana.

Kunci dari terbukanya deadlock atas penyusunan naskah ternyata adalah Menteri Angkatan Laut Laksamana Yonai. Ada kejadian unik yang dicatat dalam buku Japan’s Longest Day yang ditulis Kazutoshi Hando dari The Pacific War Research Society (1965). Yonai tadinya meninggalkan sidang kabinet untuk berkonsultasi dengan para pejabat di kementeriannya mengenai rancangan pernyataan itu. Ketika dia kembali ke kediaman resmi PM, dia terlebih dulu masuk ke toilet. Di toilet itu kebetulan juga ada Nobumasa Kawamoto, salah satu sekretaris PM Suzuki. Kawamoto tahu Yonai masuk ke toilet sehingga dia lalu membungkuk hormat. Namun dalam kesaksiannya, Yonai seperti tidak menyadari keberadaan dirinya di situ. Yonai terlihat seperti sedang berpikir keras, wajahnya suram. Beberapa saat kemudian Kawamoto kaget karena dari bilik toilet yang dimasuki Yonai terdengar suara seperti lenguhan keras, yang menggema di dalam ruangan. Kawamoto sampai merinding karena belum pernah mendengar suara seperti itu sebelumnya.

Yonai kemudian kembali ke ruang sidang kabinet, dan duduk di sebelah Jenderal Anami. Dia kemudian membisikkan sesuatu ke Anami, yang lantas mengangguk. Apa yang disampaikan Yonai kemudian mengejutkan, namun sekaligus melegakan semuanya. “Terkait dengan sejumlah kalimat dalam pernyataan kekaisaran, saya ingin revisinya merujuk kepada apa yang sudah disampaikan oleh Menteri Peperangan,” katanya. Sekretaris Utama Kabinet Sakomizu sempat berkomentar, “Hloh, tapi tadi Anda berkata ….” Ungkapan kekagetan Sakomizu dipotong oleh PM Suzuki. “Sudahlah, diselesaikan saja,” katanya tegas.

Desah kelegaan terdengar di kalangan anggota kabinet. Lebih kurang tiga jam mereka berkutat soal penggunaan kalimat atau istilah tertentu dalam pernyataan itu, dan kini berkat kompromi dari Yonai, perdebatan panjang itu usai juga. Barangkali lenguhan keras Yonai di dalam toilet tadi adalah ungkapan pelampiasan emosinya, yang kemudian membawanya kepada kesadaran untuk berkompromi agar semuanya segera selesai. Lantas apa kalimat yang menjadi ganjalan? Salah satunya adalah kalimat yang giat diperjuangkan oleh Anami agar tidak membuat Jepang seolah-olah kalah habis-habisan. Kalimat yang diperjuangkan Anami agar dimuat dalam naskah itu berbunyi “… kondisi peperangan tidak berkembang ke arah yang menguntungkan Jepang.” Anami juga memperjuangkan pencantuman kalimat “… kemampuan untuk menyelamatkan dan mempertahankan struktur negara kekaisaran…”

Salinan naskah yang sudah disetujui kabinet ini kemudian buru-buru dibawa ke Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran di dalam kompleks istana kaisar. Rancangan naskah itu diterima Wakil Menteri Rumah Tangga, Masujiro Ogane, lalu diberikan kepada dua petugas khusus yang lantas menyalinnya dengan tangan, menggoreskan kuas bertinta ke kertas tebal resmi yang biasa digunakan untuk dokumen-dokumen kenegaraan. Ada dua salinan yang dibuat Yang satu nantinya akan dicap dengan cap resmi Kaisar dan menjadi dokumen negara. Yang satu lagi adalah naskah yang akan dibacakan Kaisar dan direkam untuk disiarkan di radio.

Sementara itu kabinet masih bersidang lagi untuk menentukan kapan waktu terbaik untuk menyiarkan rekaman pidato Kaisar. Saat itu sudah terlalu malam untuk menyiarkannya, jauh melewati waktu karena sebenarnya pidato dijadwalkan direkam pada sore hari. Menteri Luar Negeri Shigenori Togo mengusulkan pidato disiarkan esok pagi tanggal 15 Agustus pukul 07.00. Usulan Togo didukung Laksamana Yonai yang berpendapat pernyataan itu perlu sesegera mungkin disebarluaskan agar rakyat Jepang lebih dini tahu dan bersiap.

Namun usulan ini tak disetujui Jenderal Anami. “Kami harus terlebih dahulu memberitahu pasukan-pasukan di luar negeri dan kami harus memastikan bahwa mereka akan menaati perintah-perintah itu. Bahkan kami harus meyakinkan mereka agar mau meletakkan senjata dan itu butuh waktu. Saya mengusulkan agar penyiaran pidato Yang Mulia Kaisar ditunda sehari,” katanya. Togo dan Yonai menyanggah keberatan Anami dengan alasan sebagaimana pihak Sekutu yang harus secepat mungkin diberitahu tentang kesediaan Jepang untuk mengakhiri perang, maka rakyat pun juga harus secepat mungkin diberitahu.

Guna menengahi kedua argumentasi ini, Direktur Biro Informasi Kabinet, Shimomura, lantas memberi pertimbangan. Siaran pagi pukul 07.00 akan kurang efektif menjangkau masyarakat karena sebagian besar masyarakat – sebagai contoh para petani – sudah berangkat bekerja dan jauh dari pesawat radio. Penundaan siaran hingga sehari juga justru akan memicu lebih banyak ketidakpastian dan bahkan bisa memancing kerusuhan. Karena itu dia mengusulkan agar pidato Kaisar disiarkan tengah hari besok, tanggal 15 Agustus, pukul 12.00. Usulan Shimomura langsung diterima seluruh kabinet.

Di Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran, dua naskah resmi pernyataan Kaisar akhirnya rampung ditulis dengan tangan. Penasihat pribadi Kaisar, Marquis Koichi Kido, kemudian membawa salah satunya kepada Kaisar yang ingin membacanya dulu. Ternyata Kaisar menginginkan lima perubahan kecil pada naskah sehingga dua penulisnya harus melakukan koreksi.

Dalam situasi normal, jika naskah resmi kekaisaran mengalami koreksi atau revisi, maka naskah itu harus secara manual ditulis ulang dengan tangan dari awal sampai akhir. Namun untuk menulis ulang naskah yang menggunakan 815 karakter huruf Jepang dengan tangan bakal membutuhkan waktu berjam-jam lagi. Kalau ini dilakukan, proses perekaman pidato bakal baru bisa dilakukan entah nanti dini hari atau bahkan besok pagi sekalian, padahal waktu sudah makin sempit dan pernyataan itu harus secepatnya disiarkan. Karenanya pihak Kementerian Rumah Tangga memutuskan agar naskah itu direvisi hanya di bagian yang perlu, tidak perlu ditulis ulang secara keseluruhan. Bagian yang direvisi “ditumpuk” dengan potongan kertas yang baru yang ditempelkan. Setelah lemnya kering, potongan kertas itu lantas ditulisi dengan karakter baru sesuai revisi yang diinginkan.

Ternyata masalah belum selesai. Ketika naskah akhirnya selesai direvisi dan dibaca ulang, ternyata ada kata yang luput dituliskan. Sang penulis sampai pucat karena ini adalah kesalahan fatal. Namun karena situasi darurat, lagi-lagi jalan kompromi diambil. Kata yang luput belum dituliskan itu lantas disisipkan di antara kalimat dengan karakter yang ditulis lebih kecil. Naskah resmi yang akhirnya selesai itu lantas diserahkan kepada PM Suzuki yang kemudian harus secara formal menyerahkannya kepada Kaisar untuk diperiksa dan kemudian disahkan dengan cap dan tanda tangan Kaisar. PM Suzuki meringis ketika melihat naskah resmi bersejarah itu “dihiasi” tambalan di beberapa bagian yang direvisi atas perintah Kaisar. Dia mungkin merasakan ironi bahwa naskah bertambalan itu akan menjadi penentu berakhirnya perang, dan menjadi penentu masa depan Jepang yang masih serba belum pasti selanjutnya.

Versi satu halaman naskah pernyataan resmi Kaisar Hirohito untuk menerima Deklarasi Potsdam yang menuntut penghentian perang oleh Jepang dan penyerahan diri. Di atas stempel kekaisaran yang berwarna merah ada tanda tangan nama kaisar. (Foto: history.army.mil)

PM Suzuki pun lantas menghadap Kaisar untuk secara resmi menyerahkan naskah tersebut. Dan pada pukul 20.30 Kaisar menggoreskan tanda tangan namanya, “Hirohito” pada bagian akhir naskah tersebut. Stempel besar Kaisar pun dibubuhkan. Tanggal yang dituliskan berdampingan dengan tanda tangan dan cap Kaisar berbunyi: “Hari ke-14, bulan ke-8 tahun ke-20 Periode Showa.” “Showa” atau “Damai yang Mencerahkan” adalah nama yang dipilih Kaisar Hirohito untuk menandai masa pemerintahannya.

Selanjutnya, proses rekaman bisa dilakukan. Namun bagaimana dengan para perwira yang berencana memberontak guna menolak rencana damai dan penyerahan diri? (Bersambung)

Baca Juga:

Kala Tentara Jepang Ogah Menyerah: Adu Cepat antara Pendukung dan Penentang Perdamaian (Bagian VI)

Kala Tentara Jepang Ogah Menyerah: Suara Pembangkangan Makin Kencang (Bagian V)

Dukung Lalu lalang masa

Setiap artikel di situs ini membutuhkan waktu untuk riset, membaca sumber,
dan menyusun tulisan. Jika tulisan ini bermanfaat, Anda dapat membantu
agar kami terus menghadirkan kisah-kisah sejarah Indonesia dan dunia.

Saweria Lalu Lalang Masa

Terima kasih atas dukungannya.

Share the Post: