Para perwira pembangkang dan pasukan yang berhasil mereka gerakkan untuk mencegah pernyataan menyerah oleh pemerintah Jepang terus bergerak pada tanggal 15 Agustus 1945 dini hari. Di Markas Komando Wilayah Timur Angkatan Darat yang bertanggung jawab atas pertahanan wilayah Tokyo dan sekitarnya, salah satu perwira stafnya, Letnan Kolonel Hiroshi Fuha, mengangkat telepon yang berdering dini hari itu. “Di sini Mayor Koga!” seru si penelepon. “Divisi Pengawal Kekaisaran menolak menyerah! Apakah Komando Wilayah Timur akan bergabung dengan revolusi ini? Pengawal Kekaisaran mengangkat senjata melawan para pengecut di pemerintah. Apakah Komando Wilayah Timur bergabung? Ini yang terpenting. Saya ulangi, Divisi Pengawal Kekaisaran…..,” suara bernada tinggi dan emosional itu lalu tak terdengar, dan kemudian hubungan telepon terputus.
Si penelepon, Mayor Hidemasa Koga, adalah menantu mantan Menteri Peperangan dan Perdana Menteri Jenderal Hideki Tojo, salah satu tokoh utama imperialisme Jepang. Koga sendiri sehari-hari berdinas sebagai salah satu anggota staf Divisi Pengawal Kekaisaran. Letkol Fuha pun menutup telepon dengan bingung. Dia sudah mendengar isu bahwa sejumlah perwira dan personel militer menolak penyerahan diri pemerintah Jepang dan hendak melakukan perlawanan atau bahkan kudeta. Tapi dia juga sudah mendengar bahwa atasannya, Panglima Komando Wilayah Timur Jenderal Tanaka, menolak membahas soal pembangkangan itu. Dia juga mendengar info Panglima Divisi Pengawal Kekaisaran, Jenderal Takeshi Mori, sudah menyatakan bakal menaati titah Kaisar yang memerintahkan penghentian perang dan penyerahan diri, dan takkan menoleransi sikap perlawanan apa pun di dalam komandonya. Karenanya Fuha tidak percaya kalau sampai ada unsur Pengawal Kekaisaran yang terlibat dalam pemberontakan karena sang panglima sudah menyatakan ketaatannya pada titah Kaisar.
Meski begitu Fuha memutuskan melaporkan adanya telepon itu ke panglimanya, Jenderal Tanaka. Dini hari itu Tanaka masih di kantornya dan sedang mengobrol dengan kepala stafnya, Mayjen Takashima. Tanaka tidak memberikan komentar apa pun atas laporan Fuha, sehingga secara keseluruhan Komando Wilayah Timur juga tidak bereaksi apa pun terhadap kabar-kabar aksi pembangkangan itu. Mayjen Takashima kemudian kembali ke ruang kerjanya sendiri dan baru saja duduk tiba-tiba pintu kantornya diketuk dan dibuka dengan keras. Masuklah Kolonel Mizutani, Kepala Staf Divisi Pengawal Kekaisaran, dan Letkol Masataka Ida, salah satu perwira pendukung pembangkangan. “Jenderal Mori dibunuh!” jerit Mizutani histeris. “Pengawal Kekaisaran sudah menguasai istana. Saya minta instruksi dari Komando Wilayah Timur …” lanjutnya, kalimatnya terputus karena mungkin saking emosinya Mizutani malah ambruk jatuh ke lantai, pingsan.
Takashima segera memanggil anggota stafnya untuk menggotong Mizutani dan membaringkannya di sofa di ruangan lain. Takashima lalu memandang Ida. “Jadi, ada apa ini sebenarnya?” tanya dia. Ida sedikit gelagapan. Tadinya, dalam kedatangannya ke Markas Komando Wilayah Timur, dia hanya bermaksud membujuk Jenderal Tanaka agar mendukung upaya perlawanan terhadap rencana perdamaian dan menutupi insiden pembunuhan Mori. Tapi Mizutani yang menyatakan bahwa Mori sudah tewas terbunuh jadi mengacaukan rencananya. Ida pun tidak punya pilihan selain mengulangi argumen yang dibangun para perwira pembangkang selama ini yaitu agar Angkatan Darat memberontak demi menolak penyerahan diri kepada musuh, membujuk Kaisar agar berubah pikiran dan membatalkan pernyataan penyerahan diri, dan perjuangan hingga titik darah penghabisan untuk melawan musuh demi menjaga muruah dan martabat angkatan bersenjata. “Karena itu Komando Wilayah Timur harus segera bertindak. Akan terlambat untuk melangkah jika pernyataan Kaisar keburu disiarkan besok siang. Jika Komando Wilayah Timur menegaskan sikapnya sekarang, martabat dan warisan kepribadian bangsa akan bisa dipertahankan….,” kata Ida, suaranya makin melemah, emosi dan kelelahan fisik dan mental makin menekan dirinya.
“Jadi apa persisnya yang Anda minta dari Komando Wilayah Timur?” tanya Takashima. “Menyetujui tindakan yang sudah dilakukan Pengawal Kekaisaran dan mengirimkan pasukan untuk bergabung dengan Divisi Pengawal,” sahut Ida. “Saya tidak bisa memutuskan tanpa perintah dari Jenderal Tanaka. Sebaiknya Anda membicarakan ini dengan Letkol Itagaki sementara saya melapor kepada Panglima,” ujar Takashima seraya beranjak memanggil salah satu perwira stafnya. Letkol Itagaki. Tapi Ida sudah kehabisan tenaga dan kekuatan mental. Dia sebenarnya sudah beberapa kali merasa ragu dengan potensi sukses gerakan perlawanan itu, tapi tiap kali optimisme dan dorongan penggerak utamanya, Mayor Kenji Hatanaka, membuatnya masih bertahan. Tapi kali ini dia betul-betul merasa gerakan itu sudah gagal. Ketika Kaisar sudah bertitah dan titahnya, yang dibacakan sendiri olehnya, akhirnya disiarkan di radio, siapa yang bakal berani menyangkal? Ida merasa apa yang bakal terjadi selanjutnya sudah di luar kemampuannya.

Sementara itu Komandan Resimen Infanteri I Pengawal Kekaisaran, Letkol Watanabe, baru saja mendapat kabar soal adanya Surat Perintah Strategis No. 584 dari Mayor Koga. Watanabe yang sama sekali tak tahu bahwa surat perintah itu palsu dan diterbitkan dengan cap panglimanya, Jenderal Mori, yang bahkan sudah meninggal dibunuh, segera menjalankan tugas sesuai surat perintah. Poin kedua dari surat perintah itu menyebutkan bahwa “Komandan Resimen Infantri I akan menguasai wilayah Markas Komando Timur Kedua dan Ketiga termasuk kawasan Honmaru Baba [bagian utama kompleks istana kaisar dan lapangan parade di sekitarnya] sehingga akan melindungi Keluarga Kekaisaran dari sisi ini. Komandan juga harus menugaskan satu kompi untuk menguasai Stasiun Penyiaran Tokyo dan mencegah semua siaran.” Dia pun langsung memerintahkan pasukannya bergerak menguasai wilayah-wilayah seperti yang disebutkan dalam surat perintah itu termasuk gedung lembaga penyiaran publik NHK.
Memburu Rekaman Pidato Kaisar
Pada waktu yang lebih kurang sama, Menteri Rumah Tangga, Sotaro Ishiwatari, mulai curiga ada yang tak beres ketika hendak pulang dia dicegat tentara di Gerbang Inui dan disuruh balik ke kantornya. Ishiwatari jadi khawatir dengan nasib Kepala Biro Informasi Kabinet Shimomura dan orang-orang NHK yang sudah lebih dulu pergi setelah merampungkan proses perekaman pidato Kaisar. Dia lantas mengutus Kepala Biro Umum Kementerian Rumah Tangga, Susumu Kato, untuk mencari tahu. Ditemani seorang polisi yang bertugas di kementerian, Kato lalu pergi ke markas Pengawal Kekaisaran, yang tanpa diketahuinya sudah menjadi tempat penahanan Shimomura dan para pejabat dan teknisi NHK. Jadilah Sato dan pengawalnya ikut dijebloskan ke dalam tahanan.
Salah satu penggerak utama pemberontakan, Mayor Koga, ada di situ. Dia pun mencoba mencari informasi dari Kato, bertanya di mana posisi Marquis Koichi Kido, penasihat pribadi Kaisar sekaligus pemegang stempel resmi Kekaisaran, dan Menteri Rumah Tangga Ishiwatari. Marquis Kido adalah salah satu target para pembangkang karena dianggap menjadi salah satu orang yang mempengaruhi pemikiran Kaisar sehingga keluar titah untuk menyerah.
Meski kaget dan takut karena mendadak jadi tahanan, Kato tetap bisa berpikir jernih. “Saya tidak tahu pasti di mana Marquis Kido, semestinya dia tidak jauh dari Kaisar, apalagi dalam kondisi seperti sekarang,” jawabnya. “Kalau Menteri Ishiwatari, coba Anda tanyakan ke Bagian Pertahanan Udara Kementerian, mereka seharusnya tahu. Sebenarnya kali terakhir saya bertemu Menteri itu sudah berjam-jam yang lalu, dan sekarang saya malah ditahan di sini, jadi mana saya tahu dia di mana sekarang?” imbuh dia.

Koga jelas tidak puas dengan jawaban ini Dia lalu berpaling ke orang-orang NHK. “Saya tahu Anda termasuk yang bikin rekaman pidato Kaisar. Rekamannya sudah jadi?” tanya dia kepada Kepala Biro Domestik NHK, Kenjiro Yabe. “Ya, sudah jadi,” jawab Yabe. “Di mana sekarang rekamannya?” tanya Koga lagi. “Saya minta tolong ke Kementerian Rumah Tangga untuk menyimpannya,” jawab Yabe. “Kapan mau disiarkan?” tanya Koga. “Besok. Ya, hari ini,” ujar Yabe. “Kalau memang mau disiarkan hari ini, kenapa rekamannya dititipkan di Kementerian? Kenapa tidak dibawa ke NHK?” Koga menyelidik. “Kalau dibawa ke NHK malam ini terlalu berisiko di bawah ancaman serangan udara. Lagi pula rekaman itu rencananya disiarkan tengah hari, jadi masih ada waktu,” jelas Yabe.
Koga lalu menugaskan seorang perwira dari batalion Pengawal Kekaisaran untuk membawa Yabe ke Kementerian Rumah Tangga dan mencari rekaman itu. Sang komandan lalu memanggil empat perwira dan 40 tentara dan membawa Yabe. Menjelang masuk ke gedung kementerian, sang komandan memerintahkan anak buahnya mengokang senapan dan dengan senjata siap tembak mereka masuk ke dalam gedung.
Sambil berjalan Yabe terus ditanyai soal proses rekaman dan dia pun memberikan penjelasan. Tapi ketika dia ditanya soal di mana rekaman itu, Yabe menggelengkan kepala. “Saya tidak tahu ditaruh di mana. Saya menyerahkan rekaman itu ke salah satu chamberlain untuk disimpan,” kata dia. Sejumlah pegawai kementerian yang berhasil ditemukan berada di gedung itu lalu dibawa ke depan Yabe. “Ke siapa rekaman itu diserahkan?” tanya komandan pasukan. “Waduh saya enggak ingat siapa namanya,” jawab Yabe. “Coba lihat baik-baik, ini bukan orangnya?” tanya si komandan sambil menunjuk satu demi satu para pegawai. Yabe kembali menggelengkan kepala. “Saya sama sekali tidak ingat. Tapi sepertinya bukan salah satu yang ada di sini,” ujarnya. Karena frustrasi, si komandan memerintahkan sejumlah anak buahnya mengawal Yabe kembali ke tempatnya ditahan, dan sisanya mulai menggeledah satu demi satu ruangan di gedung itu.
Menteri Rumah Tangga Ishiwatari, Wakil Menteri Rumah Tangga, Masujiro Ogane, Kepala Seksi Umum Motohiko Kakei, dan Sekretaris Menteri, Tadashi Ishikawa, yang makin khawatir dengan kondisi mencoba menelepon Markas Divisi Pengawal Kekaisaran untuk mencari panglimanya, Jenderal Takeshi Mori, ingin bertanya soal apa yang sesungguhnya terjadi dan melaporkan hilangnya Kato dan para orang NHK. Namun tiap kali tersambung, orang yang menjawab tidak memberi informasi apa-apa atau memberitahu di mana Jenderal Mori. Sekretaris Menteri Ishikawa baru mau mencoba menelepon lagi ketika tiba-tiba sekelompok tentara menyerbu ke dalam ruangan. “Diam! Jangan melawan!” teriak perwira yang memimpin pasukan itu. Sejumlah tentara lantas memotong kabel telepon. Mereka kemudian pergi begitu saja.

“Saya khawatir ini betul-betul pemberontakan,” bisik Ishikawa setelah kekagetan mereka semua hilang. “Tidak diragukan lagi. Hampir tidak mungkin proses perdamaian bisa dicapai dengan mulus kalau sudah begini. Situasi kita betul-betul gawat, sangat gawat,” jawab Ishiwatari. Wakil Menteri Ogane kemudian membangunkan Chamberlain Mitsui, Toda, dan Tokugawa, memberitahu mereka bahaya yang terjadi. Mereka lantas mendatangi apartemen kepala ajudan Kaisar, Jenderal Hasunuma, yang ada di kompleks gedung Kementerian Rumah Tangga dan memberitahunya apa yang terjadi. Hasunuma awalnya masih ragu. “Mana mungkin, Jenderal Mori sendiri yang menjamin kalau kita bisa mempercayai pasukan pengawal. Dia juga bilang kalau mau memerintahkan perubahan penugasan penjagaan. Mungkin itu yang kalian dengar,” katanya. “Maaf, Jenderal, sepertinya ini betul-betul pemberontakan. Seluruh sambungan telepon keluar istana sudah diputus dan istana sudah dikepung dan dikuasai. Tak ada yang bisa keluar masuk. Kita semua sudah jadi tahanan di sini termasuk Kaisar,” ujar salah satu ajudan, Seike. Hasunuma langsung mengenakan pakaian seragamnya dan bersama-sama mereka pergi ke kantornya. Dan benar saja, sambungan telepon sudah putus. Upaya untuk menelepon ke Kementerian Peperangan atau Markas Staf Umum Angkatan Darat tidak berhasil.
Chamberlain Mitsui kemudian mencoba mengecek kondisi di Gobunko, gedung perpustakaan kekaisaran yang menjadi tempat tinggal sementara Kaisar dan permaisuri. Dia melihat bahwa pintu utama gedung kementerian sudah dijaga tentara, sehingga dia mencoba melipir lewat pintu lain. Namun baru mau keluar, dia sudah dibentak tentara yang tahu-tahu muncul dari kegelapan, menodongkan senapan dengan bayonet terhunus. “Tidak boleh keluar! Balik!” bentak tentara itu. Mitsui yang nyaris pingsan saking kagetnya segera balik kanan.
Menyelamatkan Tokoh Penting
Chamberlain Tokugawa kemudian memutuskan bahwa para pejabat inti harus segera disembunyikan dari para pemberontak. Dia lalu mengajak Menteri Rumah Tangga Ishiwatari, Wakil Menteri Ogane, Kepala Seksi Umum Kakei, serta Sekretaris Menteri Ishikawa yang dikawal dua polisi menuju ruang perlindungan bawah tanah rahasia. Ruang bawah tanah ini betul-betul tersembunyi, karena pintu aksesnya ada di dalam sebuah lemari besar di ruangan yang biasa digunakan oleh para asisten perempuan yang bertugas melayani permaisuri. Ishiwatari dkk. berhasil disembunyikan di dalam ruang rahasia itu. Sebagai kode, lima ketukan disepakati. Hanya yang membunyikan lima ketukan itu yang boleh dibukakan pintu.

Chamberlain Toda selanjutnya mencari penasihat pribadi Kaisar Marquis Koichi Kido di ruang tempat tinggalnya di lantai dua gedung Kementerian Rumah Tangga, memintanya untuk pergi bersamanya mencari tempat persembunyian. Kido menanggapi kepanikan Toda dengan tenang. “Yah, akhirnya yang kita khawatirkan terjadi juga, kan? Tapi para pemberontak itu sungguh bodoh. Mereka mau apa lagi? Sudah terlambat, besok semua orang akan tahu kalau kita sudah memutuskan menerima Deklarasi Potsdam dan menyerah,” kata dia.
“Mau bodoh atau tidak, tapi para pemberontak itu bersenjata dan setiap saat bisa membunuh kita! Apa Anda lupa dengan peristiwa 26 Februari?” tukas Toda. Yang dimaksud Toda adalah pemberontakan oleh sejumlah perwira muda Angkatan Darat pada 26 Februari 1936. Pemberontakan itu dipicu oleh adanya dua faksi dalam Angkatan Darat yaitu faksi tradisionalis dan faksi modernis. Pemberontakan oleh faksi tradisionalis itu berdampak terbunuhnya dua mantan perdana menteri dan terlukanya sejumlah pejabat senior termasuk Baron Kantaro Suzuki yang kemudian menjadi perdana menteri pada Agustus 1945.
Kido menghela nafas. “Yah, sekarang kita bisa apa?” ujarnya. “Kita harus bersembunyi biar aman,” kata Toda. “Di mana?” tanya Kido. “Saya kepikiran satu tempat. Kantor dokter, sepertinya aman,” sahut Toda.
Mereka berdua merayap dalam gelap karena listrik mati. Dalam kegelapan dan kesunyian mereka bisa mendengar suara derapan sepatu tentara di lantai bawah. Sesampai di ruang praktik dokter istana, Toda menyuruh Kido masuk, lalu menutup pintu dan menyuruh Kido menguncinya dari dalam. Toda lega, satu pejabat penting berhasil disembunyikan. Namun saat Toda kembali ke ruangan Kido, dia bertemu dengan rombongan tentara yang sedang menggiring pejabat NHK, Yabe, untuk mencari rekaman pidato Kaisar.
“Siapa kamu?” bentak salah satu tentara. “Saya chamberlain,” jawab Toda. “Dia bukan yang diserahi rekaman?” tanya tentara lain kepada Yabe. “Wah bukan, saya betul-betul lupa,” jawab Yabe. Komandan pasukan lalu bertanya ke Toda. “Di mana rekaman pidato Kaisar? Di mana Kido? Di mana Ishiwatari?” bentaknya. Toda memasang ekspresi bingung. “Bung, saya ini pegawai biasa. Mana saya tahu hal-hal penting seperti itu?” ujarnya.
Stresnya para tentara yang ditugasi mencari rekaman pidato Kaisar ini bertambah lagi dengan model bangunan Kementerian Rumah Tangga yang lorong-lorongnya sempit dengan ruangan-ruangan yang modelnya mirip. Kalaupun ada penamaan ruangan, penamaan itu menggunakan istilah kuno yang sama sekali tidak menggambarkan apa fungsi ruangan itu bagi orang awam seperti para tentara itu yang sama sekali belum pernah masuk ke sana.
Arsitektur bangunan juga bikin orang biasa makin bingung. Bagian bangunan tempat kerja dan istirahat para chamberlain dan staf istana adalah bangunan tiga lantai yang “bersandar” di lereng bukit kecil. Orang yang masuk dari belakang akan langsung sampai di lantai tiga, sementara yang masuk dari pintu utama di depan akan berada di lantai satu. Kondisi kompleks yang gelap gulita karena pemadaman listrik membuat penerangan hanya berasal dari senter atau lentera. Tak heran kalau para tentara ini jadi makin emosional.
Toda kemudian bertemu Tokugawa dan menceritakan soal Marquis Kido yang disembunyikan di ruang praktik dokter. Tokugawa lantas meminta Kido diantar juga ke ruang bawah tanah, berkumpul dengan Ishiwatari dkk. Akhirnya para pejabat penting berhasil disembunyikan, dan situasi di dalam Kementerian dan istana kini berada di tangan para chamberlain yang harus berhadapan dengan para pemberontak. (Bersambung)

