Pura Mangkunegaran Solo dalam pekan pertama November 2026 ini memiliki kerja besar menggelar “royal wedding,” pernikahan agung atau Dhaup Ageng Gusti Raden Ajeng (G.R.Aj.) Ancillasura Marina Sudjiwo atau biasa dipanggil Gusti Sura, dengan Kanjeng Pangeran Haryo (K.P.H.) F.X. Adimas Rosdian. Gusti Sura sendiri adalah kakak pemimpin Mangkunegaran saat ini yaitu Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (K.G.P.A.A.) Mangkoenagoro X.
Sebagai salah satu institusi budaya pewaris Kerajaan Mataram, Pura Mangkunegaran menggelar acara pernikahan agung ini dengan berbagai pernik tradisi. Seperti dijelaskan dalam rilis dari Pura Mangkunegaran yang diterima lalulalangmasa.com, rangkaian acara dimulai pada Selasa (3/11/2026) dengan prosesi Sengkeran, yang dimulai pukul 17.00 WIB. Sengkeran adalah kegiatan di mana calon mempelai perempuan menjalani proses “menyepi” di dalam kamar tertutup untuk mempersiapkan diri secara batin sebelum memasuki tahap baru dalam kehidupannya. Kegiatan ini dilakukan di Bale Warni yang merupakan bagian Keputren, bagian khusus di dalam istana yang dikhususkan bagi perempuan keturunan penguasa. Selama proses ini berlangsung sejumlah abdi dalem perempuan yang berusia lebih dari 55 tahun atau yang biasa disebut “nini” akan berjaga di depan kamar seraya melantunkan tembang-tembang tradisional Jawa jenis Macapat.
Selanjutnya pada Rabu (4/11/2026) berlangsung kegiatan pemasangan bleketepe dan tuwuhan. Bleketepe adalah lembaran anyaman daun kelapa, yang menjadi simbol penanda dan perlindungan dalam rangkaian persiapan pernikahan adat Jawa. Sementara tuwuhan adalah tumbuhan serta hasil bumi yang dirangkai dan merupakan simbol pertumbuhan, kesuburan, harapan, dan kehidupan baru bagi pasangan pengantin. Pemasangan bleketepe akan dilakukan di bagian atap Bangsal Tosan, sementara tuwuhan akan diletakkan di beberapa lokasi, yang dilakukan mulai pukul 11.00 WIB.
Pada tanggal yang sama akan dilakukan pula ritual Adang Sepisan atau proses menanak nasi untuk kali pertama. Tradisi ini menjadi penanda dimulainya proses penyiapan hidangan untuk para tamu selama hajatan berlangsung. Kegiatan akan dilakukan di Dapur Jayengan mulai pukul 11.30 WIB, di mana proses menanak nasi akan menggunakan dua peranti masak pusaka Mangkunegaran yaitu Nyai Dandang dan Nyai Sumyang.

Kegiatan lain yang berlangsung pada hari itu adalah prosesi Nyantri, yaitu datangnya calon mempelai laki-laki ke Pura Mangkunegaran untuk diterima dan selanjutnya mendapatkan pembekalan agar memahami kehidupan dan aneka tradisi di dalam lingkungan istana. Dalam prosesi yang dimulai pukul 17.00 WIB ini calon mempelai laki-laki akan diterima di Pendapa Ageng, selanjutnya diantar ke Dalem Prangwedanan. Sebagai bagian dari prosesi ini ada sajian tarian Beksan Menak Koncar oleh tujuh orang penari Kawedanan Langen Praja.
Beksan Menak Koncar merupakan kisah jatuh cintanya Adipati Menak Koncar kepada Dewi Sekati, putri Adipati Ronggolawe yang berkuasa di kawasan Tuban, Jawa Timur. Tarian ini dikreasikan oleh Nyi Bei Mintararas pada era 1960-1970, sementara gending pengiringnya digubah oleh komponis karawitan S. Maridi, yang kemudian direkam di perusahaan rekaman milik negara, Lokananta di Solo, pada 1980-an.
Sehari kemudian, Kamis (5/11/2026), sejak pagi hari pada 08.30 WIB berlangsung tradisi Langkahan dan Siraman. Langkahan adalah proses penghormatan calon mempelai perempuan kepada kakaknya, sekaligus memohon izin untuk melangsungkan pernikahan. Dalam kegiatan ini Gusti Sura akan bersungkem dan memohon izin serta doa restu kepada kakaknya yaitu Gusti Pangeran Haryo (G.P.H.) Paundrakarna bertempat di Dalem Pracimayasa. Tradisi selanjutnya yaitu Siraman yang merupakan simbol penyucian diri oleh calon pengantin secara lahir dan batin. Siraman untuk calon mempelai putri dilakukan di kamar mandi Dalem Pracimayasa yang ada di area Bale Warni, sementara siraman untuk calon mempelai laki-laki dilakukan di rumahnya sendiri.
Saat prosesi siraman untuk calon mempelai putri akan ditampilkan tarian Gambyong Retna Kusuma oleh lima orang abdi dalem perempuan. Tari Gambyong Retna Kusuma adalah kreasi K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII yang menggambarkan pesona gadis remaja yang tengah memamerkan kegemulaiannya menyajikan tarian.

Seusai prosesi Siraman, selanjutnya akan digelar acara Dodol Dawet di Bale Warni. Dodol Dawet adalah salah satu tradisi dalam pernikahan tradisional Jawa, yang memiliki makna mengajak tamu yang hadir dalam acara pernikahan ikut memberi restu, sedangkan keluarga mempelai juga mengalir rezekinya. Dodol Dawet juga menjadi simbol kesiapan orang tua mempelai melepas anak mereka untuk menempuh kehidupan yang baru.
Malam harinya berlangsung tradisi Midodareni, yang prosesinya dimulai pada pukul 17.00 WIB, bertepatan pada malam terakhir sebelum berlangsungnya upacara pernikahan. Dalam tradisi Jawa pada malam ini calon mempelai perempuan mempersiapkan diri secara lahir batin, sekaligus menantikan hadirnya widodari atau bidadari yang diyakini akan menyempurnakan kecantikan calon mempelai perempuan. Selama prosesi Midodareni ini calon mempelai perempuan berada di Bale Warni.
Pada saat yang sama calon mempelai laki-laki dan para anggota laki-laki dari keluarga calon mempelai perempuan berangkat ke Pendapa Ageng dari Dalem Prangwedanan. Di pendapa mereka menikmati sajian tarian Beksan Srimpi Sura Asmara. Saat itu pula akan ada proses keluarnya kembar mayang yang akan ditempatkan di sejumlah lokasi. Kembar mayang adalah hiasan dari janur atau daun kelapa muda yang dibuat berpasangan, dan menjadi simbol restu spiritual agar kedua mempelai mendapat pengayoman dalam berumah tangga.
Puncak acara Dhaup Ageng berlangsung pada Jumat (6/11/2026) yang ditandai dengan pelaksanaan proses pengesahan dan pemberkatan pernikahan dalam tata cara agama Katolik di Gereja Santo Antonius Padua Purbayan, Solo, pada pukul 08.00 WIB. Acara ini berlangsung tertutup dan hanya dihadiri keluarga kedua mempelai. Sedangkan upacara secara adat akan kembali berlangsung pada malam hari yang dimulai pada pukul 18.00 WIB di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran dan Dalem Ageng. Prosesi dibuka dengan acara tradisi Panggih atau pertemuan resmi kedua mempelai setelah berlangsungnya proses pernikahan dan pemberkatan nikah secara agama. Pada prosesi Panggih, kedua mempelai akan mengenakan busana Dodot Ageng Bango Buthak,
Upacara Panggih diawali dengan masuknya simbol tebusan berupa pisang sanggan yang dibawa pihak mempelai laki-laki sebagai wujud seserahan atau persembahan kepada keluarga mempelai perempuan. Setelah itu kedua mempelai melakukan tradisi balangan gantal atau berbalas melempar gulungan sirih. Tradisi ini menjadi simbol pertemuan dan keterikatan kedua pengantin dan penanda masuknya pasangan itu ke dalam kehidupan bersama. Selanjutnya kedua mempelai melakukan ngunjuk degan atau minum air kelapa muda bersama. Dalam tradisi pernikahan Jawa, air kelapa muda adalah simbol air suci yang membersihkan jiwa dan raga, dan cara meminumnya, di mana satu wadah atau gelas akan dipakai bergantian minum oleh keluarga dan mempelai adalah simbol bahwa segala hal yang menyenangkan atau manis dalam hidup harus dinikmati bersama-sama.

Kedua mempelai juga kemudian melakukan proses bobot timbang di mana para orang tua akan memangku kedua pengantin. Hal ini adalah simbol bahwa orang tua menerima dan menganggap kedua mempelai memiliki kedudukan yang sama dan akan diperlakukan sama. Hal ini juga menunjukkan penerimaan sepenuhnya dari orang tua terhadap mempelai sebagai bagian keluarga. Kacar-kucur adalah proses selanjutnya yang dilakukan, di mana mempelai pria memberikan campuran beras, biji-bijian pangan, dan uang logam kepada mempelai perempuan, sebagai simbol pemenuhan kewajiban seorang suami kepada istrinya dalam memberikan nafkah, dan sang istri menerimanya untuk dikelola demi kepentingan rumah tangga.
Tradisi lain yang juga dijalani adalah Dhahar Klimah, yaitu saat kedua mempelai menyantap hidangan bersama-sama. Tradisi ini menjadi lambang bahwa pasangan itu akan berbagi kehidupan, rezeki, dan menjalani semua hal suka dan duka secara bersama. Seluruh rangkaian ini berjalan bersamaan dengan jalannya resepsi bagi tamu undangan utama atau VVIP yang digelar pada Jumat malam itu.
Ada sebuah tradisi lain yang unik, yang dilakukan larut malam lebih kurang pukul 23.00 setelah seluruh rangkaian upacara resmi selesai, yaitu tradisi Nyoloki. Saat itu pasangan mempelai tidur di krobongan atau ruangan yang disakralkan di Dalem Ageng dalam kondisi gelap gulita. Saat itu para nini atau abdi dalem perempuan yang berusia di atas 55 tahun kemudian datang membawa lampu minyak sebagai penerangan. Lampu minyak ini menjadi sejumlah simbol, seperti simbol penerang jalan hidup, simbol keharmonisan seperti bersatunya minyak dan sumbu yang menjadi wahana menyalanya api, serta simbol tolak bala atau penangkalan terhadap mara bahaya.
Kirab dan Hiburan untuk Masyarakat
Pada Sabtu (7/11/2026) akan digelar resepsi pernikahan kedua yang tetap bertempat di Pendapa Ageng Pura Mangkunegaran. Tamu dalam acara ini jauh lebih banyak, lebih kurang 1.000 orang yang merupakan relasi dari kedua mempelai dan keluarga kedua mempelai. Rangkaian acara akan didahului Kirab Pengantin di mana kedua mempelai menyapa masyarakat setelah menjalani rangkaian pernikahan. Dalam tradisi Mangkunegaran, kirab menghubungkan hajat keluarga dengan masyarakat di sekitarnya, sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk turut menyambut dan menyampaikan doa dan restu bagi kedua mempelai.
Kirab dijadwalkan dimulai sekitar pukul 16.00 WIB di mana aneka unsur Mangkunegaran akan terlibat dan tampil dalam iring-iringan yang akan mengambil rute di kawasan sekitar Pura Mangkunegaran. Setelahnya, dalam resepsi yang digelar akan disajikan tari Gambyong Pareanom dan pertunjukan Langendriyan bertajuk Jumeneng Nata. Tarian Gambyong Pareanom adalah karya Nyi Bei Mintararas pada 1950 yang dipersembahkan kepada K.G.P.A.A. Mangkoenagoro VIII. Tarian ini pula pernah dibawakan langsung oleh G.R. Aj. Siti Nurul Kamaril Ngasarati alias Gusti Nurul, adik Mangkoenagoro VIII dalam sebuah acara di Pura Mangkunegaran.
Sementara Langendriyan Jumeneng Nata menyajikan kisah Damarwulan yang berhasil menaklukkan Adipati Minak Jinggo dari Blambangan yang memberontak terhadap Kerajaan Majapahit. Atas jasanya memadamkan pemberontakan ini Damarwulan kemudian menjadi raja dan mempersunting Ratu Kencana Wungu.
Dhaup Ageng Mangkunegaran juga tak melupakan masyarakat umum. Selama tiga hari pada tanggal 6-8 November 2026 digelar Mangayubagya Dhaup Ageng Mangkunegaran di Pamedan Mangkunegaran atau lapangan di depan kompleks Pura Mangkunegaran, yang digelar pukul 18.00-21.00 WIB. Setiap hari akan ada Segahan Pahargyan berupa 2.000 porsi hidangan yang dibagikan kepada masyarakat serta yayasan sosial di Kota Solo. Di Pamedan juga ada panggung kesenian yang akan menampilkan pertunjukan tari dari sejumlah kabupaten, seniman Kawedanan Langen Praja Mangkunegaran, serta para kontributor lainnya.
Pada 7 November 2026 yang bertepatan dengan Hari Wayang Nasional juga akan ada pertunjukan wayang kulit dari Kawedanan Langen Praja, yang dimulai pada pukul 21.00 WIB. Sedangkan pada 8 November 2026 mulai pukul 18.30 akan digelar pemutaran film untuk umum yang melibatkan komunitas yang juga mengundang 200 anak dari sejumlah yayasan sosial di Kota Solo.

