Penggemar masakan Minang atau masakan Padang umumnya mengenal Rumah Makan Sederhana yang punya banyak cabang di Indonesia. Nah, rumah makan ini bakal punya cabang pertama di Singapura, tepatnya di kawasan Kampong Glam.
Rencana pembukaan cabang Singapura ini diunggah di akun Instagram RM Sederhana pada 17 Mei 2026 dengan keterangan “Singapore, we have arrived.” “After a long search for the right place, we’re proud to bring the taste of Indonesia to Kampong Glam marking another meaningful chapter in our journey [setelah lama mencari tempat yang tepat, kami dengan bangga membawa cita rasa Indonesia ke Kampung Glam, menjadi babak baru dalam perjalanan panjang kami],” sebut unggahan itu seperti diberitakan Channel News Asia, .
Media ini melaporkan bahwa berdasarkan keterangan narasumber, RM Sederhana cabang Kampong Glam Singapura ini akan melakukan soft opening pada 29 Mei 2026 mendatang, sementara pembukaan resminya akan dilakukan pada pertengahan Juni. RM Sederhana memiliki lebih dari 200 cabang di seluruh Indonesia, serta tiga cabang di Malaysia yaitu di kawasan Kampung Baru, Chow Kit dan Petaling Jaya. Sementara pada 1 Mei lalu restoran ini juga mengumumkan rencana pembukaan cabang di Melbourne, Australia.
Cara penyajian hidangan di rumah makan ini pun bakal sama seperti di Indonesia yaitu semua menu “dibeber” di meja makan, dan tamu tinggal memilih mengambil menu mana yang disukai. Namun ada juga opsi prasmanan atau mengambil sendiri di tempat khusus.
Uniknya, tempat RM Sederhana membuka cabang ini adalah lokasi di mana sebelumnya berdiri rumah makan masakan Minang lain yaitu Warong Nasi Pariaman. Sayangnya meski warung ini sudah buka sejak 1948 dan bahkan sudah menjadi salah satu ikon kuliner di Singapura mereka terpaksa menutup usaha pada 31 Januari 2026 lalu.

Rumah Makan Sederhana sendiri punya jejak yang cukup panjang dan berwarna. Seperti diungkapkan di cnbcindonesia.com, pendirinya adalah Bustaman, laki-laki kelahiran 1942 di Tanah Datar, Sumatra Barat. Seperti banyak orang Minang lainnya, dia banyak merantau ke berbagai tempat mencoba aneka penghidupan. Dia kemudian sampai di Jambi, tempat dia kemudian berjualan rokok. Setelah itu pada 1960-an dia bekerja di rumah makan masakan Padang milik teman saudaranya.
Di tempat ini apa pun dikerjakannya, mulai dari yang paling sederhana seperti mencuci peralatan makan, jadi tukang masak, pelayan, sampai kemudian berbelanja bahan. Di tempat ini dia jadi belajar banyak soal bisnis kuliner dan mengelola rumah makan. Akhirnya dia nekat merantau ke Jakarta bersama keluarga kecilnya dengan niat mengembangkan hidup.
Buah Keuletan
Kehidupannya di Jakarta dimulai pada 1970. Awalnya dia berjualan rokok, namun karena sering jadi korban preman dia lalu pindah dan memulai membuka warung makan makanan khas Minang di kawasan Bendungan Hilir atau yang populer disebut Benhil. Dia memasang nama “Sederhana”, diilhami nama rumah makan di Jambi tempatnya bekerja dulu. Meski hanya berupa gerobak sederhana di atas trotoar mepet got, warungnya laris karena masakannya cocok di lidah banyak orang. Apalagi Bustaman memodifikasi rasa masakannya agar tak terlalu “Padang” yang cenderung lebih pedas, menjadi lebih bisa diterima orang non-Minang. Warungnya pun jadi langganan para pekerja saat jam istirahat.
Sayang, karena berjualan di trotoar, dia akhirnya kena gusur. Dia lantas pindah dengan menyewa lahan, masih di kawasan yang sama. Untung saja meski pindah warungnya tetap laris. Dia kemudian mulai membuka cabang-cabang baru, masih dalam bentuk warung kaki lima, yang diawaki saudara atau warga dari kampung halamannya. Setelah cukup mengumpulkan modal Bustamam lantas membuka rumah makan baru dengan nama RM Singgalang Jaya di Roxy pada 1975 dan RM Sederhana di Pasar Sunan Giri, Rawamangun pada 1978.
Sukses membuat Bustaman terus membuka cabang baru. Cabang-cabang itu dibangun dengan skema bisnis khas Minang yaitu bagi hasil. Pihak yang bekerja sama dengannya alias investor akan menyediakan tempat dan peralatan, pihak RM Sederhana akan menyediakan tenaga kerja, sistem manajemen, dan hak untuk memasang merek dan logo yang menjadi ciri khas. Dengan sistem bagi hasil, pendapatan pekerja ditentukan oleh laris atau tidaknya rumah makan mereka. Hal ini memacu tanggung jawab untuk membuat restorannya laris dengan terus menjaga mutu, rasa masakan, dan pelayanan yang baik. Komposisi bagi hasilnya adalah dari total keuntungan 50% menjadi hak pekerja, 30% untuk investor, dan 20% untuk pemegang merek.
Bustaman juga membuat rumah makannya berbeda dibandingkan rumah makan lainnya. Ukuran ruangannya lebih besar, bersih, dan nyaman, sehingga masyarakat kelas menengah ke atas pun nyaman bersantap. Meski punya RM Singgalang Jaya, pada akhirnya mulai 1994 seluruh cabang menggunakan nama RM Sederhana. Nah, ada lagi yang menarik dari logo khas jejaring rumah makannya. Meski punya ciri dasar yang sama yaitu bentuk rumah gadang khas Minang, ternyata ada beda huruf di logo itu, yaitu SA, SB, dan SC. Apa maksudnya?
Ternyata seperti dijelaskan di inilah.com, beda huruf pada logo itu menunjukkan status kepemilikan dan manajemen dari rumah makan yang memasang logo. Logo dengan huruf SA artinya rumah makan itu dikelola langsung oleh keluarga pemilik merk alias keluarga langsung Bustaman. Sementara jika ada RM Sederhana yang berlogo SB, itu artinya rumah makan itu dimiliki orang lain namun tetap mengadopsi resep dan manajemen dari RM Sederhana yang menjadi induknya. Rumah makan dengan logo SC artinya dikelola secara mandiri tanpa campur tangan pemilik merek untuk resep dan standar layanan atau manajemennya.

Lebih jauh, situs tradisikuliner.com memberi penjelasan lebih mendetail soal arti dari ketiga kode itu. Kode SA artinya kendali penuh dari pemilik RM Sederhana, di mana kualitas masakan sangat konsisten, karena pusat langsung mengontrol bahan baku dan resep. Pelayanannya juga sesuai dengan standar asli, mulai dari penyajian makanan hingga cara karyawan berinteraksi dengan pelanggan. RM Sederhana dengan logo SA umumnya berada di lokas-lokasi strategis seperti kawasan pusat kota atau area komersial utama.
Untuk RM Sederhana dengan logo SB yang merupakan waralaba bagi hasil, ciri khasnya adalah kualitas masakan yang tetap terjaga, meskipun ada sedikit variasi rasa karena perbedaan bahan lokal. Standar pelayanannya juga relatif sama dengan SA, sementara dari segi harga cenderung lebih murah dari RM Sederhana berlogo SA. Rumah makan berkode SB biasanya berada di daerah pinggiran kota atau kota kecil.
Sedangkan RM Sederhana berkode SC menunjukkan statusnya sebagai cabang yang dikelola sepenuhnya oleh mitra/investor tanpa pengawasan ketat dari pusat. Kemitraannya lebih sebagai pengguna lisensi merk “Sederhana.” RM Sederhana berkode SC punya ciri khas berupa rasa masakan yang lebih bervariasi dan disesuaikan dengan lidah lokal karena pemilik lisensi atau pihak pusat tidak mengawasi langsung resepnya. Standar pelayanan dan fasilitas pun bisa berbeda-beda tergantung pada pengelola cabangnya. Harganya pun cenderung lebih rendah dibandingkan rumah makan berkode SA dan SB.

