Mengintip Cara Israel Memburu dan Membunuh Pemimpin Iran

Pengunjuk rasa membawa foto pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei, saat mengikuti aksi solidaritas untuk Iran di depan Kedutaan Besar Iran, Jakarta (1/3/2026). (Foto:Antara/Darryl Ramadhan)
Pengunjuk rasa membawa foto pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei, saat mengikuti aksi solidaritas untuk Iran di depan Kedutaan Besar Iran, Jakarta (1/3/2026). (Foto:Antara/Darryl Ramadhan)

Salah satu negara paling dibenci di dunia saat ini bisa dipastikan adalah Israel dengan segala kekejamannya di Palestina dan Lebanon, yang seolah tak bisa dihentikan oleh siapa pun. Namun tetap saja kita perlu belajar banyak hal dari Israel. Seperti kata ahli strategi China kuno, Sun Tzu, “kenalilah musuhmu,” maka kita pun perlu memahami seperti apa Israel bekerja dalam berbagai hal agar kita bisa setidaknya mencegah diri dari apa yang mereka lakukan, atau mengambil strategi mereka untuk kepentingan sendiri.

Salah satunya adalah cara mereka memburu sosok-sosok yang dianggap sebagai musuh. Dalam sejarah Israel sudah banyak sekali membunuh tokoh-tokoh lawan mereka, baik lewat operasi senyap maupun dengan operasi militer berskala besar yang melibatkan serangan udara dengan bom atau rudal. Salah satu sasaran terpenting mereka belum lama ini adalah pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang meninggal dunia dalam serangan udara Israel di tempat tinggalnya, Sabtu (28/2/2026) lalu.

Channel News Asia beberapa waktu lalu dengan mengutip sejumlah sumber mengungkap cara Israel “menemukan” Khamenei hingga bisa mengatur serangan udara presisi yang menyasarnya. Menurut sejumlah sumber itu, Israel sebenarnya sudah berhasil meretas hampir seluruh kamera CCTV pemantau lalu lintas di Ibu Kota Iran, Teheran, di mana hal ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Dengan cara itu mereka bisa memantau pergerakan orang-orang yang diyakini bekerja di sekitar Khamenei.

Satu kamera yang ada di Pasteur Street, tempat Khamenei tinggal, ternyata memiliki sudut sorotan yang tepat sehingga Israel bisa “mengintip” dan mengidentifikasi semua orang yang bekerja di lingkungan Khamenei, seperti anggota staf, pengurus rumah tangga, sampai pengawal. Semua pergerakan mereka, termasuk dari hasil pantauan di kamera-kamera lain, dicatat dan ditambahkan terus menerus ke dalam data setiap orang yang diidentifikasi sehingga intelijen Israel bisa membuat gambaran kebiasaan orang-orang itu, bagaimana pengaturan jam kerja mereka, rute mana yang biasa ditempuh untuk berangkat atau pulang, serta untuk siapa mereka biasa bekerja. Dengan cara ini Israel bisa membangun apa yang di dalam dunia intelijen disebut sebagai “pola hidup.”

Tentu ini bukan hasil kerja dalam waktu singkat. Butuh waktu bertahun-tahun untuk mengidentifikasi orang, menemukan apa kerjanya, dengan siapa dia bekerja, di mana dia biasa berada, pada waktu apa dia berada di tempat kerja, dan sebagainya. Berkat ketelatenan ini akhirnya Israel dan AS bisa memastikan kapan Ayatullah Khamenei berada di kantornya dan siapa yang bersamanya pada saat itu.

“Kami sudah memahami Teheran sebagaimana kami memahami Jerusalem,” ujar seorang pejabat intelijen Israel kepada sumber yang dikutip Channel News Asia. “Dan jika kita sudah mengenal sebuah tempat seperti halnya kita mengenal kampung tempat kita tumbuh, kita akan dengan cepat mengenali hal yang terasa tidak wajar atau tidak seperti biasanya,” kata dia.

Saking canggihnya peretasan oleh Israel, mereka bahkan bisa meretas ke dalam sejumlah menara penguat sinyal telekomunikasi seluler di sekitar lokasi kediaman dan kantor Khamenei untuk membuat nomor-nomor yang tersambung dengan menara-menara itu seolah-olah sibuk sehingga tak bisa dihubungi. Hal ini membuat para pengawal dan pejabat di sekitar Khamenei tak bisa merespons ketika kondisi darurat terjadi, atau ketika mereka curiga bahwa akan ada sesuatu.

Dalam konflik dengan Iran yang pecah tahun ini, perang sesungguhnya terjadi ketika para pejabat intelijen AS dan Israel akhirnya bisa memastikan keberadaan Khamenei di kantornya pada akhir pekan yang kemudian menjadi musabab kematiannya. Secara publik, selama itu Presiden AS Donald Trump terus menerus mengancam Iran di tengah upaya perundingan damai yang disponsori Oman.

Namun meski perundingan itu berlangsung relatif positif dan membawa prospek baik, Trump di balik layar sudah menyatakan tidak sabar dengan sikap Iran. Seorang sumber di pemerintahan AS menyebut bahwa perang terhadap Iran sudah dirancang berbulan-bulan, namun eksekusinya disesuaikan dengan temuan bahwa Khamenei dan sejumlah pembantu seniornya akan rapat di kediamannya di Teheran pada Sabtu pagi 28 Februari.

Kepastian ini didapat dari hasil penyadapan Israel terhadap jaringan komunikasi seluler dan kamera CCTV lalu lintas. Data menunjukkan rapat Khamenei akan berlangsung sesuai jadwal dan sejumlah pejabat senior sudah berangkat ke lokasi. Informasi ini kabarnya juga makin diperkuat oleh sumber non mesin yaitu intelijen manusia, entah itu agen yang disusupkan atau pengkhianat yang dibayar. CIA sendiri menolak merespons pertanyaan media soal ini.

Maka dimulailah serangan terhadap Iran, yang dalam khazanah militer AS diberi nama Operation Epic Fury. Awal operasi sesungguhnya adalah cara militer AS membersihkan jalan bagi Israel untuk melakukan serangan pembunuhan terhadap Khamenei. Militer AS melancarkan serangan siber yang melumpuhkan kemampuan deteksi, komunikasi, dan koordinasi Iran. Sementara itu pesawat-pesawat tempur Israel yang sudah terlebih dahulu mengudara untuk mencapai lokasi di mana mereka bisa melepaskan rudal-rudal dari jarak aman akhirnya mendapat perintah menembak. Seorang sumber intelijen Israel menyebut rudal yang ditembakkan Israel ke arah kompleks kediaman Khamenei mencapai 30 buah.

Salah satu pemegang peran penting dalam pengumpulan data mengenai Teheran adalah sebuah unit intelijen data Israel yang disebut Unit 8200, yang menyaring semua hasil peretasan kamera dan informasi lain. Selain itu agen-agen asing yang direkrut oleh badan intelijen Israel, Mossad, juga berperan memberikan informasi yang tidak terpantau melalui alat.

“Dalam budaya intelijen Israel, intelijen target adalah bidang taktis yang paling penting karena menjadi dasar pembuatan strategi,” kata Itai Shapira, seorang brigadir jenderal di kesatuan cadangan militer dan berpengalaman puluhan tahun di intelijen. “Jika pengambil keputusan memutuskan bahwa seseorang harus dibunuh, maka respons di budaya intelijen Israel adalah ‘kami akan menyediakan intelijen target,’” kata dia. Dengan itu intelijen akan mengumpulkan semua detail mengenai sasaran hingga waktu eksekusi bisa ditetapkan dengan akurat.

Dalam konflik dengan Iran, Israel sudah membunuh ratusan orang di berbagai tempat di luar negeri, baik itu pejabat, tokoh kelompok militan pro-Iran, ilmuwan pendukung program nuklir Iran, ahli kimia, dan sebagainya. Aksi pembunuhan ini paling terlihat jelas saat konflik 12 hari pada Juni 2025 lalu. Saat itu belasan ilmuwan nuklir dan perwira senior militer Iran berhasil dibunuh dalam waktu singkat. Israel saat itu juga mampu melumpuhkan sistem pertahanan udara Iran lewat kombinasi serangan siber, pesawat nirawak atau drone jarak jauh, dan rudal presisi yang membungkam sistem radar dan rudal pertahanan udara Iran yang dibuat Rusia.

Sementara itu Sima Shine, mantan pejabat Mossad yang bidangnya berfokus ke Iran, menjelaskan bahwa intelijen target terhadap Iran sudah dimulai sejak 2001. Perdana Menteri Israel saat itu, Ariel Sharon, memerintahkan kepala Mossad saat itu, Meir Dagan, untuk menjadikan Iran sebagai prioritas. “Semua yang sudah dilakukan Mossad selama ini sudah bagus,” kata Sharon kepada Dagan seperti diungkapkan Shine. “Sekarang saya butuh Iran. Itu targetmu!” tegas Sharon saat itu. “Jadi sejak saat itu, Iran sudah jadi target,” kata Shine.

Baca Juga:

Menengok Hebatnya Operasi Penyelamatan Penerbang Tempur AS di Iran

AS Serang Iran, Begini Riwayat Konflik AS-Iran Sejak Dulu

Share the Post: