Hari pertama Kabinet Reformasi Pembangunan dilantik menjadi hari yang menegangkan bagi Presiden B.J. Habibie karena adanya pergerakan pasukan Kostrad yang tidak dikoordinasikan dengan Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto. Hal ini membuat Habibie membuat keputusan tegas memerintahkan pencopotan Pangkostrad Letjen TNI Prabowo Subianto sebelum matahari tenggelam pada 22 Mei 1998. Sementara itu bersamaan dengan pelantikan kabinet, seluruh anggota keluarga Habibie diungsikan ke Wisma Negara di kompleks istana kepresidenan Jakarta.
Terkait penggantian Pangkostrad yang diserahkan kepadanya, Jenderal TNI Wiranto pun melaporkan bahwa pengganti Prabowo adalah Mayjen TNI Djamari Chaniago (saat ini menjabat sebagai Menko Polhukam Kabinet Merah Putih Prabowo), Panglima Kodam III Siliwangi. Namun karena jabatan Pangdam Siliwangi tidak bisa serta merta diserahterimakan kepada pengganti, maka untuk sementara Asisten Operasi Pangab, Letjen TNI Johnny Lumintang akan dilantik sebagai pejabat sementara Pangkostrad. Johnny yang nantinya akan mengemban tugas memerintahkan seluruh pasukan Kostrad yang bergerak di luar komando resmi untuk kembali ke markas masing-masing sebelum matahari terbenam. Habibie pun menyetujui rencana Wiranto ini.
Tak lama berselang kabar baru muncul. Ajudan melaporkan bahwa Letjen Prabowo meminta waktu bertemu. Habibie pun bertanya-tanya soal maksud Prabowo. Dalam bukunya, Detik-detik yang Menentukan, Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (The Habibie Center, 2006), permintaan Prabowo untuk bertemu ini memicu banyak pemikiran di benak Habibie. Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto yang baru sehari sebelumnya mengundurkan diri dari jabatan setelah berkuasa selama tiga dekade, dengan pengaruh yang sangat kuat.
“Apakah perlu saya bertemu? Apa gunanya bertemu? Bagaimana sikap dan tanggapan Pak Harto mengenai kebijakan saya menghentikan Prabowo dari jabatannya sebagai Pangkostrad? Apakah beliau tersinggung dan menugaskan menantunya untuk bertemu dengan saya?” begitu pikir Habibie. “Apa akibatnya jikalau saya tidak menerima Pangkostrad? Bukankah Pangkostrad memiliki hak untuk didengar pendapatnya? Dialog adalah dasar untuk lebih saling mengerti dan pengertian adalah hasil dari dialog. Pengertian adalah awal dari toleransi. Toleransi adalah salah satu elemen dari perdamaian dan ketenteraman. Bukankah ini maksud tujuan reformasi? Perdamaian dan ketenteraman di bumi Indonesia?” tulis Habibie soal apa yang ada di pikirannya saat itu dalam bukunya.
Dengan berbagai pertimbangan Habibie akhirnya memutuskan untuk menerima Prabowo, namun pada waktu setelah dirinya bersantap siang dengan seluruh anggota keluarganya yang sudah diboyong ke Wisma Negara, dan sebelum berlangsungnya pertemuan lain yang sudah diagendakan dengan Gubernur Bank Indonesia. Habibie pun masih belum berhenti berpikir soal langkah Prabowo. Mengapa Prabowo tanpa sepengetahuan atau koordinasi dengan Pangab menggerakkan pasukan Kostrad? Dalam pemikiran Habibie, Prabowo lahir dan dibesarkan di lingkungan yang sangat intelektual dan rasional. Disiplin intelektual memungkinkan untuk menganalisis, mempertanyakan, memperdebatkan tiap jejak seorang diri atau dengan lingkungannya, termasuk dengan atasannya.
Berbeda halnya dengan disiplin militer. Setiap langka harus dilaksanakan sesuai perintah atasan walaupun bertentangan dengan pendapat pribadi pelaksana perintah tersebut. Habibie menilai Prabowo mencampuradukkan sikap disiplin intelektual yang bebas berinisiatif dengan lingkungan militer yang harus selalu patuh dalam struktur komando. Karena Prabowo adalah menantu Presiden Soeharto di lingkungan yang penuh budaya feodal yang subur, maka tindakannya kadang melenceng dari disiplin militer. Selalu ada toleransi untuk apa pun yang dilakukannya dan atasannya akan enggan menegur. Menurut Habibie kebiasaan pemberian “eksklusivitas” kepada Prabowo adalah mungkin salah satu penyebab bisa terjadinya gerakan pasukan Kostrad tanpa konsultasi, koordinasi, dan otorisasi dari Pangab.
“Walaupun saya sangat akrab dan dekat dengan Prabowo di mana dia menganggap saya sebagai salah satu idolanya kebiasaan tersebut tidak boleh saya biarkan. Ini suatu pelajaran bagi semua bahwa dalam melaksanakan tugas, pemberian eksklusivitas kepada siapa saja, termasuk kepada keluarga dan teman, tidak dapat dibenarkan,” tulis Habibie. Hal itu menurut dia juga akan bisa memengaruhi para komandan lainnya untuk bertindak sendiri-sendiri dengan alasan apa pun tanpa koordinasi. Sikap demikian dapat mengakibatkan kekacauan bahkan perang saudara.
Kebiasaan Prabowo yang suka bertindak dengan inisiatif dan penilaian pribadi tanpa koordinasi dan otorisasi dari pimpinan ini juga menjadi catatan Wiranto yang diungkapkan dalam bukunya, Bersaksi di Tengah Badai (IDe Indonesia, 2004). Salah satunya terjadi menjelang lengsernya Presiden Soeharto di mana Wiranto mendapat laporan Pangkostrad Prabowo bertemu dengan sejumlah tokoh seperti Gus Dur, Amien Rais, dan sebagainya. Bagi Wiranto hal ini di luar peran seorang Pangkostrad yang memiliki tanggung jawab teknis mengelola pergerakan pasukan berdasarkan perintah Pangab dan bukannya ikut campur dalam urusan politik dan kenegaraan, apalagi tanpa koordinasi dan arahan dari Pangab.
Kembali ke Wisma Negara, akhirnya Prabowo pun masuk ke ruang tamu Wisma Negara. Seperti dicatat Habibie, Prabowo berbicara dalam bahasa Inggris, seperti kebiasaan selama ini jika bertemu dengannya. “Ini suatu penghinaan bagi keluarga saya dan keluarga mertua saya Presiden Soeharto, Anda telah memecat saya sebagai Pangkostrad,” ujar Prabowo seperti diingat Habibie.
“Anda tidak dipecat, tetapi jabatan Anda diganti,” sahut Habibie. “Mengapa?” tanya Prabowo. Habibie menjelaskan adanya laporan dari Pangab soal pergerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta, Kuningan (kawasan kediaman Habibie), dan Istana Merdeka. “Saya bermaksud untuk mengamankan Presiden,” kat Prabowo. “Itu adalah tugas Pasukan Pengamanan Presiden yang bertanggung jawab langsung pada Pangab dan bukan tugas Anda,” jawab saya.
Jawaban Habibie rupanya memicu emosi Prabowo. “Presiden apa Anda? Anda naif!” tukas Prabowo dengan nada marah seperti dicatat Habibie. “Masa bodoh, saya Presiden dan harus membereskan keadaan bangsa dan negara yang sangat memprihatinkan,” tegas Habibie.
Prabowo masih berupaya menyatakan keinginannya. “Atas nama ayah saya Prof. Soemitro Djojohadikusumo dan ayah mertua saya Presiden Soeharto, saya minta Anda memberikan saya tiga bulan untuk tetap menguasai pasukan Kostrad,” ujar Prabowo. Pernyataan ini pun direspons Habibie dengan ketegaskan “Tidak! Sampai matahari terbenam Anda sudah harus menyerahkan semua pasukan kepada Pangkostrad yang baru!” ujar Habibie. Prabowo – seperti dicatat Habibie – masih bersikeras. “Berikan saya tiga minggu atau tiga hari saja untuk masih dapat menguasai pasukan saya!” ujarnya.
Habibie kembali menegaskan sikapnya bahwa sebelum matahari terbenam pada hari itu seluruh komando Kostrad sudah harus diserahkan kepada Pangkostrad baru. “Saya bersedia mengangkat Anda menjadi duta besar di mana saja,” kata Habibie.
“Yang saya kehendaki adalah pasukan saya!” jawab Prabowo. “Ini tidak mungkin, Prabowo!” tegas Habibie.
Dalam suasana itu salah satu asisten utama Habibie, Letjen TNI Sintong Panjaitan masuk dan menginterupsi pertemuan. “Jenderal, Bapak Presiden tidak punya waktu banyak dan harap segera meninggalkan ruangan,” ujarnya tegas. Sebagai catatan bagi generasi saat ini, Sintong adalah mantan anggota Kopassus yang memimpin operasi pembebasan para penumpang dan awak pesawat Garuda Indonesia yang dibajak sekelompok orang militan pada 1981. Pesawat DC-9 Woyla rute Jakarta-Medan itu dibajak ke luar negeri dan kemudian mendarat di Bangkok, Thailand. Sintong kemudian mencapai pangkat Mayjen dan menjadi Panglima Kodam Udayana, di mana saat itu terjadi peristiwa Santa Cruz berupa bentrokan pasukan ABRI dengan pengunjuk rasa prokemerdekaan Timor Timur. Hal ini membuat Sintong kehilangan jabatan dan sempat “tersingkir” tanpa posisi apa pun meski tak dipecat dari ABRI. Sintong kemudian “direkrut” Habibie sebagai asisten bidang pengembangan persenjataan.
Namun ternyata Habibie masih belum selesai berbicara dengan Prabowo. Kesempatan jeda ini dimanfaatkan Prabowo untuk meminta agar bisa berbicara dengan Pangab melalui telepon. Salah satu ajudan yang mendampingi Habibie kemudian diperintahkan menghubungi Pangab. Ternyata ada jawaban dari Markas Besar ABRI bahwa Pangab tidak dapat dihubungi. Saat itu Sintong kembali masuk dan meminta Prabowo segera meninggalkan tempat karena Gubernur Bank Indonesia yang diagendakan bertemu dengan Habibie sudah tiba. Pertemuan pun berakhir, dan Habibie masih menyempatkan berjabat tangan dan memeluk Prabowo seraya menitipkan salam untuk ayahnya, Prof. Soemitro, dan ayah mertuanya, mantan Presiden Soeharto.
Kini saatnya bicara lagi soal ekonomi. Apa yang selanjutnya dilakukan Habibie? (Bersambung)

